Kisah Abdul Rasyid Perantau asal Bima yang Sukses Bisnis Gerabah Skala Eskpor di Jogja

Akurat.co,Jogja-Abdul Rasyid adalah perantau asal Bima, Nusa Tenggara Barat. Tapi, ia malah sukses membangun bisnis gerabah skala ekspor di Yogyakarta.
Tak dinyana di sudut desa Panjangrejo, Pundong, Bantul, sosok yang menekuni bisnis gerabah dan sukses malah bukan warga Jogja asli.
Tapi dia adalah Abdul Rosyid. Saban hari di tempat usahanya ini, ia memilah tanah liat untuk dipijat, dibentuk, dihaluskan, lalu disusun rapi menunggu giliran dibakar.
Baca Juga: Kisah Anselmus Wau, Lulusan UGM Korban PHK yang Sukses Berbisnis Keripik Singkong
Asal mula Abdul Rosyid berkecimpung di bisnis ini terjadi pada 1997. Sepulang dari merantau di Jakarta, ia memilih menetap di Jogja setelah menikah.
Saat itu ia mulai serius menekuni kerajinan gerabah. Awalnya, ia bekerja pada perajin lain, belajar dari proses demi proses, mengamati detail, dan memahami karakter tanah liat.
"Saya belajar otodidak, mengikuti alur orang sini. Dari ikut orang sampai akhirnya bisa berdiri sendiri," kenangnya dilansir dari laman resmi Pemkab Bantul, Senin (2/3/2026).
Dari pengalaman itulah ia kemudian memberanikan diri mendirikan usaha sendiri.
Tidak hanya mengikuti cara lama, Abdul Rasyid justru dikenal sebagai salah satu perintis teknik cetak menggunakan gypsum di wilayahnya.
Jika sebelumnya perajin mengandalkan alat putar (perbut) yang cenderung menghasilkan bentuk-bentuk bulat, teknik cetak membuka kemungkinan desain yang lebih variatif.
Berbagai bentuk suvenir bisa diproduksi dengan presisi dan jumlah lebih banyak. Inovasi ini perlahan mengubah pola produksi di lingkungannya.
Produk unggulannya kini merambah pasar internasional. Kap lampu buatannya dikenal memiliki kualitas yang memenuhi standar ekspor.
Barang-barang tersebut dikirim hingga ke Australia dan Prancis melalui kerja sama dengan agen atau broker dalam pengiriman skala kontainer.
Saat Covid justru permintaan melonjak
Menariknya, ketika banyak sektor usaha terpukul saat pandemi COVID-19, Abdul Rasyid justru merasakan lonjakan permintaan.
Tren berkebun di rumah membuat pot bunga menjadi buruan. Pesanan datang silih berganti, memberi napas segar bagi usaha yang telah dirintis lebih dari dua dekade itu.
Di tengah perubahan zaman, ia juga menyaksikan pergeseran cara pemasaran. Jika para perajin generasi lama masih bergantung pada pengepul di sentra gerabah Kasongan, generasi muda mulai memanfaatkan platform digital seperti marketplace untuk menjual produk secara langsung ke konsumen.
Transformasi ini membuka peluang baru sekaligus tantangan untuk terus beradaptasi.
Dalam proses pembuatannya, gerabah di Panjangrejo umumnya melalui dua metode utama: alat putar dan teknik cetak.
Baca Juga: UMKM DIY Tembus Pasar Internasional, Palem Craft Ekspor Produk Home Decor Bernilai Ratusan Juta
Tanah liat terlebih dahulu diolah hingga lentur, kemudian dibentuk sesuai desain, diangin-anginkan, dikeringkan, lalu masuk tahap pembakaran.
Setiap tahapan menuntut ketelitian, karena kesalahan kecil dapat membuat produk retak atau pecah.
Meski telah menembus pasar ekspor, Abdul Rasyid dan perajin lain di Panjangrejo masih menghadapi kendala klasik, yakni infrastruktur.
Akses jalan menuju sentra kerajinan relatif sempit, menyulitkan bus pariwisata untuk masuk.
Potensi pembangunan showroom atau pusat pameran seperti di Kasongan pun belum optimal karena faktor tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





