Jogja

Alasan Kenapa Kuliner Khas Jogja Ini Dinamakan Serabi Kocor

Haris Ma'ani | 1 September 2026, 09:24 WIB
Alasan Kenapa Kuliner Khas Jogja Ini Dinamakan Serabi Kocor
Serabi kocor, kulner tradisional Jogja yang terus lestari. -foto: dok.pemkot jogja

Akurat.co,Jogja- Kuliner khas Jogja seolah tak ada habisnya, dan bahkan menjadi penguat budaya setempat.

Salah satunya adalah serabi kocor. Jajanan tradisional ini bisa terus bertahan di tengah gempuran kuliner modern.

Bahkan serabi kocor baru saja dinobatkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBtb) oleh pemerintah pusat.

Baca Juga: Kota Jogja Wilayah dengan Warisan Budaya Takbenda Terbanyak DIY, dari Permainan sampai Kuliner

Kenapa dinamakan serabi kocor?

Dikutip dari laman resmi Pemkot Joga, serabi kocor merupakan penganan berbentuk bulat pipih yang dibuat dari campuran tepung beras, tepung terigu, santan, dan sedikit garam.

Istilah kocor merujuk pada cara penyajiannya, yaitu serabi yang "dikocori" atau disiram menggunakan kuah santan dan gula jawa.

Dalam bahasa Indonesia, kata kocor memiliki makna mengalir atau disiram dari atas ke bawah.

Dengan demikian, nama serabi kocor tidak hanya menjadi penanda jenis makanan, tetapi juga menggambarkan karakter penyajiannya yang membedakannya dari berbagai varian serabi lain di Nusantara.

Perpaduan rasa gurih dari serabi dengan manisnya kuah menghasilkan cita rasa yang khas dan berbeda dengan berbagai jenis serabi dari daerah lain.

Selain mempertahankan resep tradisional, proses pembuatannya hingga kini masih menggunakan peralatan sederhana berupa tungku kayu bakar dan cetakan dari tanah liat.

Penggunaan peralatan tradisional tersebut bukan sekadar mempertahankan cara memasak lama, tetapi juga berperan menghasilkan aroma dan tekstur yang menjadi ciri khas Serabi Kocor.

Menariknya, adonan serabi kocor tidak menggunakan bahan pengembang seperti ragi ataupun soda kue.

Tekstur yang lembut diperoleh melalui keterampilan pembuat dalam mengendalikan suhu tungku selama proses pemanggangan.

Dikenal sejak masa kerajaan Mataram

Jejak sejarah serabi telah dikenal sejak masa Kerajaan Mataram.

Keberadaannya tercatat dalam Serat Centhini, karya sastra Jawa yang disusun pada awal abad ke-19, sebagai salah satu hidangan dalam berbagai perhelatan masyarakat maupun sajian pada upacara adat.

Catatan tersebut menunjukkan bahwa serabi telah menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat Jawa jauh sebelum berkembangnya berbagai variasi serabi yang dikenal saat ini.

Di Yogyakarta, perkembangan Serabi Kocor tidak dapat dilepaskan dari sosok Mbah Padmo.

Pada sekitar tahun 1972, ia mulai memproduksi dan memperkenalkan serabi kocor kepada masyarakat melalui penjualan di pasar-pasar tradisional.

Konsistensinya menjadikan serabi kocor dikenal luas hingga masyarakat kemudian menjuluki beliau sebagai "Padmo Serabi".

Baca Juga: Warung Makan Mamiku, Hidden Gem Kuliner yang Jam Buka Tutupnya Harus Update IG Mereka

Setelah usaha tersebut sempat berhenti pasca wafatnya Mbah Padmo, tradisi ini kembali dihidupkan oleh cucunya, Cindar Satyo Damar Hapsoro (Mas Cin) yang melakukan riset keluarga untuk merekonstruksi resep asli sebelum kembali memproduksi serabi kocor pada tahun 2012.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.