Akurat.co,Jogja-Dinas Kesehatan Kota Jogjakarta memastikan tak ada penemuan kasus virus nipah.
Meski demikian, Dinkes Yogyakarta meminta masyarakat tetap waspada. Mengingat, Jogja juga menjadi kota tujuan wisata.
Ketua Tim Kerja Pengelolaan Data, dan Sistem Informasi Kesehatan, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Solikhin Dwi Ramtana, secara geografis Indonesia berdekatan dengan sejumlah negara yang pernah melaporkan kasus virus nipah.
Baca Juga: Muncul PMK, Balai Besar Veteriner Segera Ambil Sampel
Seperti Malaysia, Filipina, Bangladesh, dan India. Kasus pertama nipah tercatat terjadi di Malaysia pada tahun 1998–1999.
“Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan adanya bukti serologis dan deteksi virus pada reservoir alami kelelawar buah (Pteropus sp),” ujarnya.
Menurutnya, kewaspadaan perlu ditingkatkan, terutama terkait keberadaan reservoir alami dan mobilitas penduduk dari wilayah yang pernah mengalami kejadian luar biasa (KLB) virus Nipah.
Untuk itu, Dinkes Kota Yogyakarta memperkuat surveilans kesehatan, khususnya pemantauan gejala klinis yang mengarah pada infeksi Nipah.
Surveilans tersebut meliputi pemantauan Influenza Like Illness (ILI), ISPA akut, serta Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) di seluruh puskesmas.
Hingga saat ini, Solikhin menegaskan bahwa tidak ditemukan tren peningkatan kasus yang mengarah pada Nipah.
“Memang sempat ada kenaikan kasus ISPA saat isu ‘super flu’ akhir tahun lalu, tetapi tidak signifikan dan tidak mengarah ke Nipah,” ujarnya.
Waspada gejala klinis virus Nipah
Dikutip dari laman resmi Pemkot DIY, gejala klinis virus Nipah umumnya diawali dengan demam tinggi akut, kemudian dapat berkembang menjadi gangguan saraf, seperti penurunan kesadaran dan kejang.
Virus ini juga dapat menyerang otak dan memiliki tingkat fatalitas yang sangat tinggi, yakni berkisar antara 40 hingga 75 persen.
“Gejala yang mengarah ke penyakit nipah, teman-teman di puskesmas sudah kami minta untuk waspada dan segera melakukan pelaporan bila menemukan gejala yang mencurigakan,” katanya.
Penularan virus nipah dapat terjadi dari hewan ke manusia, maupun dari manusia ke manusia.
Untuk itu, upaya pencegahan, masyarakat diimbau agar mencuci buah dengan bersih sebelum dikonsumsi, serta tidak mengonsumsi buah yang sudah rusak atau bekas gigitan hewan.
Baca Juga: 2025, Dinkes Sleman Catat ada 418 Kasus DBD
Selain itu, nira atau air sadapan kelapa sebaiknya dimasak terlebih dahulu sebelum dikonsumsi untuk menghindari potensi kontaminasi.
“Jika buah atau nira diduga terkontaminasi, sebaiknya tidak dikonsumsi. Daging ternak juga harus dimasak hingga matang dan hindari mengkonsumsi hewan yang dicurigai terinfeksi,” tambahnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Prediksi Pertandingan PSIM vs PSM Makassar, Tuan Rumah Terbebani Wajib Menang
- 2K-24 Healthy Run 2026 di Jogja, Boleh Bawa Stroller?
- 3Gaji ASN Lewat KDMP, DPRD DIY Khawatirkan Keamanan Data
- 412 Atlet SOIna DIY Siap Berlaga di PESONAS II 2026 Kupang
- 5Kolaborasi 5 Universitas APTIK di UAJY: Cetak Mahasiswa Ilmu Komunikasi Melek Teknologi AI
- 6Jelang Hari Santri 2026, Kemenag Sleman dan FKUB Reresik Pondok Pesantren
- 7Ada Agenda Keagamaan, Laga PSIM vs PSM Digelar tanpa Penonton
- 8Perjuangan Muhammad Yunus Kuliah di UNY, jadi Ojol Makanan saat Waktu Luang
- 9Kalah 4 Kali Beruntun, Pelatih PSIM: Wajar Suporter Kecewa dan Marah
- 10Suporter PSIM Minta Van Gastel Dipecat Dalam Waktu 1x24 Jam






