Kenaikan BBM Pemicu Inflasi Kota Jogja

Akurat.co,Jogja-Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi menjadi pemicu utama inflasi Kota Jogja.
Kepala BPS Kota Yogyakarta, Joko Prayitno mengatakan, kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan tingkat inflasi mencapai 2,65 persen dan memberikan andil 0,41 persen terhadap inflasi umum.
"Komoditas yang memberikan andil terbesar adalah bensin akibat kenaikan harga BBM nonsubsidi pada bulan Juni," ujarnya dikutip dari laman resmi Pemkot Jogja, Jumat (3/7/2026).
Baca Juga: BPS Kota Jogja Sebut Tahun Ajaran Baru akan Picu Inflasi
Selain itu, tarif kereta api dan tarif angkutan udara juga mengalami kenaikan.
Secara umum, pada bulan Juni 2026 Kota Yogyakarta mencatat inflasi 0,46 persen secara bulanan, 3,18 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y), dan 1,57 persen secara tahun kalender (year-to-date/y-to-d).
BPS mencatat, penyumbang utama inflasi secara bulanan berasal dari kelompok Transportasi dengan andil 0,41 persen, yang didominasi oleh komoditas bensin.
Sementara secara tahunan, penyumbang terbesar berasal dari kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya dengan andil 0,94 persen, terutama dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan.
Kelompok transportasi juga masih menjadi penyumbang signifikan terhadap inflasi tahunan dengan andil 0,73 persen, yang kembali didorong oleh kenaikan harga bensin.
Menurut Joko, dampak kenaikan harga BBM mulai dirasakan melalui meningkatnya tarif berbagai moda transportasi.
Sementara itu, tekanan harga pada kelompok makanan relatif lebih terkendali.
Beberapa komoditas pangan bahkan mengalami penurunan harga karena memasuki musim panen.
Cabai rawit menjadi salah satu komoditas yang mengalami penurunan harga.
Baca Juga: Emping dan Bensin jadi Penyumbang Inflasi di Kota Jogja
Namun, bawang merah, bawang putih, wortel, dan pelumas masih mencatat kenaikan harga selama di bulan Juni.
Secara bulanan, inflasi di bulan Juni tercatat lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 0,20 persen.
Meski demikian, secara tahunan inflasi Kota Yogyakarta sebesar 3,18 persen masih berada dalam kisaran target pemerintah, yakni 2,5 persen ±1 persen atau berada pada rentang 1,5–3,5 persen.
Sementara itu, inflasi kumulatif Januari hingga Juni 2026 mencapai 1,57 persen.
BPS menilai capaian tersebut masih berada pada jalur yang aman apabila tren inflasi tetap terkendali hingga akhir tahun.
Memasuki bulan Juli 2026, BPS mengingatkan adanya potensi kenaikan harga dari kelompok pendidikan seiring dimulainya tahun ajaran baru.
Biaya sekolah, pembelian buku, seragam, hingga perlengkapan pendidikan diperkirakan menjadi komoditas yang perlu diwaspadai.
Baca Juga: Inflasi Kota Jogja Capai 5,19 Persen, Cabai Rawit dan Perhiasan jadi Pemicu
Selain itu, harga daging sapi juga mulai menunjukkan tren kenaikan di tingkat pedagang akibat naiknya harga sapi hidup.
Namun, menurut Joko, dampaknya terhadap inflasi Kota Yogyakarta masih terbatas karena konsumsi masyarakat lebih didominasi oleh daging ayam dan telur.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Prediksi Pertandingan PSIM vs PSM Makassar, Tuan Rumah Terbebani Wajib Menang
- 2K-24 Healthy Run 2026 di Jogja, Boleh Bawa Stroller?
- 3Gaji ASN Lewat KDMP, DPRD DIY Khawatirkan Keamanan Data
- 412 Atlet SOIna DIY Siap Berlaga di PESONAS II 2026 Kupang
- 5Kolaborasi 5 Universitas APTIK di UAJY: Cetak Mahasiswa Ilmu Komunikasi Melek Teknologi AI
- 6Jelang Hari Santri 2026, Kemenag Sleman dan FKUB Reresik Pondok Pesantren
- 7Ada Agenda Keagamaan, Laga PSIM vs PSM Digelar tanpa Penonton
- 8Perjuangan Muhammad Yunus Kuliah di UNY, jadi Ojol Makanan saat Waktu Luang
- 9Kalah 4 Kali Beruntun, Pelatih PSIM: Wajar Suporter Kecewa dan Marah
- 10Suporter PSIM Minta Van Gastel Dipecat Dalam Waktu 1x24 Jam





