Jogja

Kisah Daliman Sukses Bertani Bawang Merah dan Sayur di Lahan Perkotaan Kota Jogja dengan Galon Bekas

Haris Ma'ani | 26 Agustus 2026, 05:08 WIB
Kisah Daliman Sukses Bertani Bawang Merah dan Sayur di Lahan Perkotaan Kota Jogja dengan Galon Bekas
Daliman menunjukkan tanaman sayurnya kepada Wakil Wali Kota Jogja, Wawan Harmawan. -foto: dok.pemkot jogja

Akurat.co,Jogja-Ditangan Daliman, warga Gemblakan, Danurejan, Kota Jogja, galon-galon bekas air mineral memiliki manfaat sebagai media tanam.

Galon-galon bekas air mineral tersebut, ia manfaatkan untuk menanam bawang merah dan sayuran lainnya di rumahnya.

Media galon dipilih untuk mengatasi keterbatasan lahan di rumahnya.

Daliman menjelaskan, untuk menanam bawang merah diperlukan media tanam yang gembur agar pertumbuhan umbi dapat berlangsung optimal.

Baca Juga: Pemkot Jogja Dorong Warganya Terapkan Konsep Pertanian Terintegrasi di Perkotaan

Ia menggunakan campuran tanah dan sekam, kemudian melakukan penyiraman secara rutin satu kali sehari.

“Tanaman bawang merah membutuhkan tanah yang gembur, tidak keras, supaya umbinya cepat tumbuh. Penyiraman rutin, intinya sehari satu kali,” katanya dikutip dari laman resmi Pemkot Jogja, Rabu (26/8).

Dari sekitar setengah kilogram bibit bawang merah atau brambang yang ditanam, Daliman dapat mengembangkannya menjadi sekitar 50 galon media tanam.

Hasil panen tidak seluruhnya dikonsumsi, tetapi sebagian akan disimpan sebagai bibit untuk penanaman berikutnya.

Selain bawang merah, Daliman juga menanam tomat, terong, cabai di halaman rumahnya yang berada di lantai 2.

Menariknya, Daliman menerapkan pola tanam bertahap dengan menyusulkan tanaman cabai setelah bawang merah berusia satu bulan.

Dengan demikian, saat bawang merah dipanen pada usia sekitar dua bulan, tanaman cabai masih dapat terus tumbuh dan dipanen berikutnya.

“Setelah satu bulan bawang merah, disusul cabai. Jadi ketika bawang merah di panen, cabainya sudah ada dan tinggal menunggu panen. Lebih hemat, lebih praktis, dan lebih menguntungkan,” ungkapnya.

Memelihara ayam

Ia juga memelihara ayam dan memanfaatkan kotorannya sebagai bahan untuk media tanam sehingga dapat menghemat penggunaan pupuk.

Daliman berharap masyarakat yang memiliki ruang kosong di rumah dapat memanfaatkannya untuk bercocok tanam.

Menurutnya, selain membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga, kegiatan tersebut juga dapat menjadi peluang untuk memperoleh penghasilan.

“Kalau ada tempat yang kosong bisa digunakan untuk bercocok tanam. Tentunya tanaman yang bisa mendatangkan rezeki. Kalau kita menanam, ada penghasilan, ada hasilnya,” katanya.

Ia juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin belajar mengenai budidaya tanaman di lahan sempit untuk datang dan belajar langsung.

Menurutnya, siapa pun dapat mencoba selama memiliki kemauan, mendapatkan cukup cahaya matahari, serta memahami teknik dasar penanaman.

Keberhasilan Daliman dalam bertani di perkotaan atau urban farming mendapat apresiasi dari Wakil Wali Kota Jogja, Wawan Harmawan.

Baca Juga: Cerita Sukses Urban Farming Kampung Suryodiningratan Jogja, Warga Kota Bisa Hasilkan Sayur Mayur

“Ini menginspirasi warga untuk ketahanan pangan. Cabai kita tanam sendiri, bawang merah kita tanam sendiri. Bisa jadi solusi untuk perkotaan yang sempit. Urban farming di kota bisa berjalan walaupun tidak memiliki lahan yang besar,” jelasnya.

Wawan menambahkan, apa yang dilakukan Daliman menunjukkan bahwa keterbatasan lahan bukan alasan untuk berhenti berupaya mewujudkan ketahanan pangan di perkotaan.

Dengan kreativitas dan pemanfaatan barang bekas seperti galon, ruang sempit di rumah pun dapat menjadi lahan produktif.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.