Bencana Sumatera, Guru Besar UMY Sebut Pemerintah Abaikan Temuan Riset Akibat Eksploitasi Berlebihan

Akurat.co,Jogja- Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Iwan Satriawan, MCL mengatakan kalau pemerintah abai terhadap riset risiko ekologis akibat eksploitasi berlebihan.
Padangan ini disampaikan menyikapi bencana alam yang terjadi Pulau Sumatera.
Kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berbasis riset ilmiah dianggap turut memperparah kerusakan ekosistem, sehingga memicu bencana yang berdampak jangka panjang bagi masyarakat lintas generasi.
Ia menekankan bahwa pemerintah berulang kali mengabaikan temuan riset yang telah lama memperingatkan risiko ekologis akibat eksploitasi berlebihan.
“Banyak pakar sudah menyampaikan bahwa jika keseimbangan ekosistem tidak dijaga dan penebangan hutan terus dibiarkan, maka tinggal menunggu waktu bencana itu terjadi.
Namun kebijakan kita bukan berbasis riset, melainkan berbasis kepentingan jangka pendek,” ujar Iwan dikutip dari laman resmi UMY, Kamis (11/12/2025).
Iwan menegaskan bahwa berbagai laporan ilmiah mengenai kondisi hutan tropis, kerentanan daerah aliran sungai, hingga risiko banjir bandang seharusnya menjadi rujukan utama dalam pembuatan kebijakan publik.
Namun pada praktiknya, keputusan di tingkat pusat maupun daerah kerap dipengaruhi kepentingan ekonomi kelompok tertentu, termasuk aktor-aktor bisnis kayu dan eksploitasi lahan.
Ia menyebut hal ini sebagai bukti lemahnya integritas tata kelola dan minimnya kapasitas negara dalam memastikan keberlanjutan lingkungan.
Dekan Fakultas Hukum UMY tersebut juga mengingatkan bahwa kerusakan ekologis tidak dapat dianggap sebagai isu sektoral semata, melainkan ancaman nyata terhadap hak hidup warga negara, yang merupakan bagian dari hak asasi manusia.
Meskipun konstitusi Indonesia telah mengamanatkan prinsip green constitution, implementasinya dinilai belum sepenuhnya tercermin dalam kebijakan negara.
Baca Juga: DIY Bantu Biaya Pendidikan dan Hidup Mahasiswa Terdampak Bencana Aceh dan Sumatera
Lebih jauh, Iwan menyoroti keterkaitan erat antara persoalan lingkungan dengan praktik korupsi, lemahnya pengawasan, dan minimnya transparansi dalam proses perizinan.
Ia mengungkapkan bahwa sejumlah kebijakan terkait pertambangan, kehutanan, dan tata ruang masih menyisakan ruang gelap yang rawan disalahgunakan.
“Dalam banyak izin eksploitasi hutan dan pertambangan, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di belakang layar.
Ruang gelap ini menunjukkan adanya transaksi dan kepentingan yang tidak sejalan dengan upaya menjaga lingkungan,” paparnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Prediksi Pertandingan PSIM vs PSM Makassar, Tuan Rumah Terbebani Wajib Menang
- 2K-24 Healthy Run 2026 di Jogja, Boleh Bawa Stroller?
- 3Gaji ASN Lewat KDMP, DPRD DIY Khawatirkan Keamanan Data
- 4Kolaborasi 5 Universitas APTIK di UAJY: Cetak Mahasiswa Ilmu Komunikasi Melek Teknologi AI
- 5Tangan di Saku, Manajer PSIM Iksan Mahar Meminta Maaf
- 6Kalah 4 Kali Beruntun, Pelatih PSIM: Wajar Suporter Kecewa dan Marah
- 7Kapolda Baru DIY Bakal Terbitkan Aturan Unjuk Rasa
- 8Hadapi PSIM, PSM Makassar Lakukan Persiapan Khusus
- 9Kalah 4 Kali Beruntun, Pelatih PSIM: Wajar Suporter Kecewa dan Marah
- 10Suporter PSIM Minta Van Gastel Dipecat Dalam Waktu 1x24 Jam







