Pakar UMY Soroti Anggaran BNPB yang Turun di Tengah Tingginya Risiko Bencana

Akurat.co,Jogja-Pakar Tata Kelola Bencana UMY, Rahmawati Husein Ph.D menyoroti penurunan anggaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjadi perhatian di tengah tingginya risiko bencana di Indonesia.
Padahal, ia menilai semakin besar anggarannya, semakin besar pula upaya yang bisa dilakukan untuk mitigasi, pengurangan risiko, dan penanganan bencana.
Berdasarkan data, pagu BNPB tercatat Rp4,91 triliun pada 2024 dan turun menjadi Rp2,01 triliun pada 2025. Pada 2026, anggaran BNPB disebut kembali turun menjadi sekitar Rp491 miliar.
Baca Juga: Seruan Boikot Bank Mandiri, Pakar UMY: Belum Bisa Disimpulkan Penarikan Dana Massal
Menurutnya, kebutuhan penguatan mitigasi tetap relevan karena Indonesia menghadapi risiko bencana yang tinggi.
Situasi tersebut masih terlihat hingga September 2026. BNPB pada 7 September melaporkan sejumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan.
Di Jawa Tengah, karhutla terjadi antara lain di Klaten, Sragen, dan Banyumas, sedangkan di Sulawesi Selatan kebakaran dilaporkan terjadi di Kota Palopo.
BNPB bersama pemerintah daerah juga masih melakukan pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Operasi dilakukan melalui pemadaman darat dan udara serta operasi modifikasi cuaca.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan pembiayaan kebencanaan tidak hanya muncul ketika terjadi bencana besar.
Pendanaan juga dibutuhkan untuk pencegahan, kesiapsiagaan, penguatan kapasitas, hingga pengurangan risiko sebelum bencana terjadi.
Namun, anggaran untuk penanggulangan bencana sebenarnya tidak hanya berasal dari BNPB.
"Ada juga dana dari kementerian dan lembaga, pemerintah daerah melalui APBD, hingga Dana Bersama Penanggulangan Bencana atau Pooling Fund Bencana (PFB) serta dana siap pakai untuk menangani bencana,” kata Rahmawati dikutip dari laman resmi UMY, Selasa (8/9).
Rahmawati mendorong agar PFB dapat dioptimalkan untuk memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan, termasuk di daerah.
Mekanisme akses terhadap pendanaan, menurutnya, perlu efektif dengan tetap disertai tata kelola dan pengawasan yang baik.
Baca Juga: Keren, Mahasiswa UMY Ubah Limbah Popok jadi Pupuk
“Kalau bisa, anggaran jangan dikurangi, bahkan kalau perlu ditambah. Mekanisme pendanaan juga harus dibuat lebih mudah diakses dengan pengawasan yang baik.
Selain itu, pemerintah perlu memperkuat kerja sama dengan masyarakat dan berbagai organisasi. Penanggulangan bencana tidak bisa dilakukan pemerintah sendirian,” tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Prediksi Pertandingan PSIM vs PSM Makassar, Tuan Rumah Terbebani Wajib Menang
- 2K-24 Healthy Run 2026 di Jogja, Boleh Bawa Stroller?
- 3Gaji ASN Lewat KDMP, DPRD DIY Khawatirkan Keamanan Data
- 4Kolaborasi 5 Universitas APTIK di UAJY: Cetak Mahasiswa Ilmu Komunikasi Melek Teknologi AI
- 5Tangan di Saku, Manajer PSIM Iksan Mahar Meminta Maaf
- 6Hadapi PSIM, PSM Makassar Lakukan Persiapan Khusus
- 7Kapolda Baru DIY Bakal Terbitkan Aturan Unjuk Rasa
- 8Kalah 4 Kali Beruntun, Pelatih PSIM: Wajar Suporter Kecewa dan Marah
- 9Kalah 4 Kali Beruntun, Pelatih PSIM: Wajar Suporter Kecewa dan Marah
- 10Suporter PSIM Minta Van Gastel Dipecat Dalam Waktu 1x24 Jam









