Jogja

Inovasi Smart Claypot UPNVY, Simpan Cabai 15 Hari Tanpa Listrik

Atiek Widyastuti | 14 September 2026, 12:51 WIB
Inovasi Smart Claypot UPNVY, Simpan Cabai 15 Hari Tanpa Listrik
Mahasiswa UPN Veteran Yogyakarta ciptakan inovasi Smart Claypot bagi petani cabai. - Istimewa

Akurat.co, Jogja - Mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN) 'Veteran' Yogyakarta ciptakan inovasi yang bermanfaat bagi petani cabai. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC), tim terdiri dari Pahlevi Alwaleed (Teknik Kimia) sebagai ketua. Bersama Bintang Ramadhan (Teknik Informatika), Linggar Zeta Kusuma (Teknik Kimia), Marsyafa Lakeisha (Teknik Kimia) dan M Fahrel Firmansyah (Teknik Kimia).

Fluktuasi harga dan penurunan kualitas cabai saat panen raya menjadi perhatian mahasiswa untuk menghadirkan inovasi Smart Claypot (SaClay) yang mampu memperpanjang masa simpan cabai dari umumnya tiga hari menjadi 15 hari, sekaligus sebagai solusi bagi petani skala mikro atau petani gurem. Karya kelima mahasiswa tersebut, mampu mengantarkan mereka melaju ke ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39.

Ketua Tim PKM-KC Pahlevi Alwaleed menjelaskan, Smart Claypot merupakan inovasi wadah penyimpanan cabai berbasis pendinginan evaporatif memanfaatkan energi surya dan terintegrasi Internet of Things (IoT). Berdasarkan hasil pengujian, prototipe Smart Claypot terbukti mampu mempertahankan kesegaran cabai selama lebih dari 15 hari tanpa aliran listrik PLN.

“Smart Claypot berfungsi sebagai pendingin alami yang terbuat dari gerabah lokal khas Kasongan, Bantul. Dilengkapi dengan teknologi kecerdasan buatan yang membedakannya dari media media penyimpanan lain, seperti kulkas, freezer dan cooler box,” katanya, Senin (14/09/2026).

Baca Juga: SAR UPN Veteran Yogyakarta Terjun Bantu Korban Gempa NTT

Pahlevi menjelaskan, Smart Claypot membantu petani memantau sisa umur simpan cabai melalui panel boks dan smartphone. Inovasi ini mengintegrasikan prinsip induced draft fan dengan berbagai sensor, termasuk SGP30 untuk mendeteksi emisi gas volatil sebagai indikator awal kebusukan cabai.

Data tersebut kemudian diolah menggunakan Machine Learning berbasis Support Vector Machine untuk memperkirakan sisa umur simpan cabai.

“Selama ini, penyimpanan cabai seperti kulkas, freezer dan cooler box, belum mampu mengoptimalkan berbagai indikator kualitas cabai, seperti susut bobot, kekerasan, dan warna secara bersamaan,” ungkapnya.

Senior Perkumpulan Petani Hortikultura Puncak Merah (PPHPM) Kabupaten Sleman Arief Setyo menyambut baik inovasi ini. Menurutnya, teknologi penyimpanan cabai sangat dibutuhkan karena masa simpan cabai umumnya hanya 3–5 hari. Ia menilai Smart Claypot berpotensi menjadi solusi bagi petani gurem karena penanganan pascapanen yang kurang tepat dapat mempercepat penurunan kualitas cabai.

Baca Juga: Waspada El Nino, Berikut Dampak dan Langkah Antisipasi dari Dosen Geofisika UPN Veteran Jogja

“Dulu pernah dicoba menggunakan freezer atau cold storage besar di Kediri, tetapi listriknya boros. Cabai juga harus segera diolah setelah dikeluarkan karena cepat lunak,” kata Arief Setyo.

Sedangkan menurut Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY Sigit Harjono, petani sangat membutuhkan teknologi penyimpanan pascapanen yang efisien dan terjangkau untuk menahan laju kerusakan mutu cabai. Dengan masa simpan yang lebih panjang, petani memiliki daya tawar lebih tinggi dan tidak merugi saat harga pasar sedang anjlok.

"Ke depannya, inovasi ini sangat potensial untuk dikembangkan ke tonase yang lebih besar dan dikolaborasikan dengan para praktisi bisnis agrikultur, sehingga manfaatnya bisa dirasakan secara masif oleh kelompok tani meski masih pada tahapan prototipe," tegasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.