Jogja

Kisah Purnama Petani Garam di Bantul, Termotivasi Cerita Sukses Zaman Dulu

M. Mubin Wibawa | 18 November 2025, 11:05 WIB
Kisah Purnama Petani Garam di Bantul, Termotivasi Cerita Sukses Zaman Dulu

Akurat.co,Jogja-Dari kisah para orangtua, dahulu di sekitar Pantai Kuwaru, Poncosari, Srandakan, Bantul, warga banyak yang membuat garam sendiri.

Dulu warga di sana banyak yang memanfaatkan air laut untuk dijadikan garam. Pertengahan tahun 1960an, kawasan Kuwaru dikenal luas sebagai daerah produksi garam.

“Si-mbah saya cerita, dulu di Kuwaru ini banyak yang bikin garam sendiri," kisah Purnama, petani garam di Kuwaru.

Baca Juga: Mengenal Kalurahan Gilangharjo, Bantul, Sentra Perajin Keris Yogyakarta yang Sudah Tembus Pasar Nasional

Cerita itu memotivasinya untuk juga menjadi petani garam. Bedanya kalau dulu memakai cara sirat, sekarang dengan menggunakan teknologi.

Sirat yang dimaksud Purnama adalah metode tradisional untuk menghasilkan garam.

Metode ini memanfaatkan evaporasi atau penguapan air laut melalui sinar matahari di lahan atau kolam dangkal.

Mula-mula, air laut dialirkan, dijemur sampai menguap, lantas garam kristal yang tersisa siap dipanen.

Purnama memilih cara yang berbeda. Ia menyedot air laut. Kemudian menampungnya pada bak penampungan hingga menunggu air sampai tua.

Air tua adalah istilah untuk air yang telah memiliki kadar garam tinggi.

Secara berkala, Purnama mengeceknya dengan salinometer, alat untuk mengecek kadar garam untuk memastikan apakah air tersebut siap dipindahkan ke dalam tunnel.

“Kalau kadar garamnya sudah tinggi, air-air dari bak penampungan dipindahkan ke tunnel. Awalnya di tunnel pertama dulu.

Setelah dua minggu, dipindah ke tunnel ke dua. Ditunggu lagi sampai dua minggu untuk dipindah ke tunnel tiga sampai tunnel ke empat. Di tunnel lima dan enam, di sinilah pengkristalan terjadi,” beber Purnama.

Keseluruhan proses produksi garam ini memakan waktu setidaknya dua bulan. Akan lebih cepat jika cuaca kering.

Belajar dari teman, banting profesi dari petambak udang

Tambang garam Purnama tak jauh dari lokasi wisata Tanggul Tirto yang masih jadi bagian dari Pantai Kuwaru.

Purnama membangun enam tunnel atau lorong untuk memproduksi garam. Tunnel-tunnel ini berjajar rapi, dirangkai menggunakan bambu dan diselimuti plastik UV.

Sosok 47 tahun asli Kuwaru ini sebelumnya berkutat pada tambak udang. Ia mulai menggeluti ladang garam sejak tahun 2013 usai belajar dari salah satu kolega.

“Saya belajar dari teman saya, asal Surabaya. Saya tertarik untuk mencoba karena menurut saya ini potensial,” ujarnya.

Baca Juga: Viral Bakso Babi di Bantul, Pemda DIY Wajibkan Pelaku Usaha Non Halal Menginfokan ke Konsumen

Dalam satu bulan, saat ini Purnama bisa menghasilkan 200 kilogram garam. Rata-rata per kilogram dijual seharga Rp1.500Rp3000.

“Dipanen tiga kali. Panen pertama, kualitas paling bagus. Warnanya paling putih. Ini bisa dikonsumsi. Panen kedua dan ketiga, digunakan untuk pertanian dan peternakan,” jelasnya.

Saat ini, mayoritas pembeli dari pasar lokal. Untuk luar kota, Purnama menyebut pernah ada pesanan dari Kebumen. Sebagai upaya memperluas pasar, Purnama berencana merambah lapak online.

“Saya juga mau jugal online. Sekarang kan jualan juga bisa serba digital,” ungkap Purnama.

Ke depan, Purnama berharap produksi garam yang ia mulai semakin berkembang dan lebih luas diterima pasar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.