Pelatihan Koperasi Merah Putih Renggut 5 Korban Jiwa, Dosen UMY: Harusnya Berbasis Kompetensi bukan Militer

Akurat.co,Jogja-Lima peserta pelatihan Koperasi Desa Merah Putih dikabarkan meninggal dunia.
Dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan UMY, Dr. Aulia Nur Kasiwi menyampaikan kritiknya atas pelatihan semi-militer yang dilakukan.
Menurutnya, dalam konteks Koperasi Merah Putih pelatihan semi-militer semestinya cukup menjadi pelengkap saja, bukan inti dari pelatihan.
"Kita harus kembali melihat tujuan dari Program Koperasi Merah Putih itu sendiri.
Baca Juga: DPRD DIY Desak Usut Tuntas Wafatnya Pelatihan Manager KDMP
Apakah yang dibutuhkan hanya kedisiplinan fisik, atau justru kemampuan mengelola organisasi dan koperasi?" ungkapnya dikutip dari laman resmi UMY, Jumat (3/7/2026).
Aulia menjelaskan bahwa esensi dari pemberdayaan koperasi seharusnya bertumpu pada peningkatan kapasitas pengurus dalam mengelola organisasi secara profesional.
Keterampilan utama yang dibutuhkan pengurus koperasi bukanlah ketahanan fisik, melainkan kecakapan administrasi, pengelolaan keuangan, hingga kemampuan membangun jejaring dan partisipasi aktif anggota.
Dalam perspektif kebijakan publik, pengurus koperasi wajib memahami tata kelola organisasi, administrasi, dan keuangan yang sehat.
Selain itu, mereka juga harus mampu memanfaatkan teknologi digital serta membangun komunikasi yang efektif demi meningkatkan kepercayaan masyarakat.
"Semakin tinggi partisipasi anggota, semakin besar pula peluang koperasi untuk berkembang,” katanya.
Tragedi yang menewaskan lima peserta ini dinilai harus menjadi momentum penting untuk mengevaluasi pelaksanaan kebijakan pemerintah.
Aulia menegaskan bahwa keselamatan peserta merupakan aspek mutlak yang sama sekali tidak boleh diabaikan dalam eksekusi kebijakan publik, terlebih untuk program yang berskala nasional.
Baca Juga: 1.061 KDMP Diresmikan Presiden, Koperasi di Bantul Belum Beroperasi
“Korban jiwa ini harus menjadi catatan merah bagi pemerintah. Ucapan belasungkawa tentu tidak akan pernah bisa menggantikan nyawa yang hilang," terangnya.
"Saya sangat menghormati institusi militer, tetapi dalam konteks pelatihan koperasi, saya belum melihat urgensi kuat mengapa pendekatan semi-militer menjadi pilihan utama," imbuhnya.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Prediksi Pertandingan PSIM vs PSM Makassar, Tuan Rumah Terbebani Wajib Menang
- 2K-24 Healthy Run 2026 di Jogja, Boleh Bawa Stroller?
- 3Gaji ASN Lewat KDMP, DPRD DIY Khawatirkan Keamanan Data
- 4Kolaborasi 5 Universitas APTIK di UAJY: Cetak Mahasiswa Ilmu Komunikasi Melek Teknologi AI
- 5Tangan di Saku, Manajer PSIM Iksan Mahar Meminta Maaf
- 6Hadapi PSIM, PSM Makassar Lakukan Persiapan Khusus
- 7Kapolda Baru DIY Bakal Terbitkan Aturan Unjuk Rasa
- 8Kalah 4 Kali Beruntun, Pelatih PSIM: Wajar Suporter Kecewa dan Marah
- 9Kalah 4 Kali Beruntun, Pelatih PSIM: Wajar Suporter Kecewa dan Marah
- 10Suporter PSIM Minta Van Gastel Dipecat Dalam Waktu 1x24 Jam





