Menyingkap Tradisi Mitoni Adat Jawa, Dijadikan Program Pemkot Jogja Mencegah Stunting

Akurat.co,Jogja-Pendekatan budaya melalui adat Jawa 'mitoni' dilakukan Pemkot Yogyakarta guna mencegah angka stunting.
Pengenalan adat mitoni pada masa kehamilan dilakukan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Yogyakarta untuk edukasi kesehatan dalam bentuk tradisi lokal yang sarat nilai budaya.
Kepala DP3AP2KB Kota Yogyakarta, Retnaningtyas, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut mengintegrasikan nilai-nilai budaya mitoni dengan edukasi kesehatan ibu dan anak.
“Kegiatan ini adalah kolaborasi budaya dan program pemerintah dalam rangka menurunkan angka stunting di Kota Yogyakarta," ujarnya dilansir dari laman resmi Pemkot Jogja.
Baca Juga: Walikota Yogyakarta : Stunting Bukan Sekedar Tinggi Badan Kurang
Berdasarkan data survei Kemenkes tahun 2024, angka stunting di Kota Yogyakarta masih 14,8 persen, namun data e-PPGBM dari Dinas Kesehatan per Oktober 2025 menunjukkan penurunan menjadi 9,7 persen,” ujar Retnaningtyas.
Menurutnya, masa kehamilan merupakan periode emas untuk mencegah stunting. Status gizi dan kesehatan ibu secara langsung mempengaruhi tumbuh kembang janin. Karena itu, diperlukan pendampingan yang berkesinambungan sejak masa pranikah hingga pasca persalinan.
“Salah satu faktor risiko utama stunting adalah kurangnya pengetahuan ibu tentang gizi selama hamil dan menyusui, rendahnya pemeriksaan kehamilan, serta minimnya dukungan keluarga.
Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, peran keluarga dan lingkungan sangat penting,” tuturnya.
Mitoni bukan sekadar ritual budaya
Lebih lanjut, Retnaningtyas menegaskan bahwa tradisi Mitoni tidak hanya sekadar ritual budaya, tetapi memiliki keterkaitan yang erat dengan edukasi kesehatan.
“Kalau edukasi hanya lewat selebaran atau media sosial, kadang kurang menarik. Karena itu, kami mencoba menggunakan adat tradisi yang korelasinya sangat erat dengan mitoni.
Budaya ini mengajarkan bagaimana ibu hamil harus dijaga kesehatannya, mendapat dukungan keluarga, dan memastikan bayi lahir sehat,” jelasnya.
Retnaningtyas juga membeberkan bahwa saat ini terdapat 495 Tim Pendamping Keluarga (TPK) di Kota Yogyakarta yang aktif mendampingi calon pengantin, ibu hamil, hingga anak balita. Dengan dukungan lintas sektor, ia optimis angka stunting turun di bawah 5 persen.
Sementara itu, dr. Fauzan Achmad Maliki, spesialis obstetri dan ginekolog, yang juga hadir sebagai narasumber di kegiatan, menyebutkan, seluruh prosesi dalam tradisi Mitoni memiliki makna mendalam yang berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan ibu serta bayi.
Baca Juga: Festival Sehat Ceria si Kecil, Menuju Generasi Maju Bebas Stunting
Selain itu juga tersimpan pesan edukatif tentang pentingnya menjaga kesehatan ibu hamil, baik secara fisik maupun gizi.
“Dari sisi gizi, ibu hamil harus mengonsumsi makanan bergizi seimbang karbohidrat, protein, sayur, dan buah. Jangan hanya nasi dan lauk saja.
Kemudian, wajib mengkonsumsi tablet tambah darah karena anemia merupakan salah satu penyebab risiko stunting. Gizi seimbang itu esensial,” terang dr. Fauzan.
Ia mencontohkan, dalam tradisi mitoni terdapat sajian seperti dawet, rujak, dan tumpeng yang sebenarnya menggambarkan konsep edukasi gizi seimbang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Warga Sleman Jangan Panik! Sirine EWS Merapi Bakal Berbunyi Serentak 17 Agustus, Ini Alasannya
- 2Tangan Kroniyah Gemetar Saat Terima Kunci Rumah, Ini Sebabnya...
- 3Dari Posko NTT, Dirut PLN Pastikan Pasokan Listrik Aman selama Pelaksanaan HUT ke-81
- 4Lansia Hilang Saat Cari Rumput di Hutan Pathuk Tritis Sleman
- 5Donatsur, Donat Lembut Jogja yang Selalu Antre Pembeli
- 6Dampak El Nino, Status Siaga Darurat Kekeringan Sleman Berpotensi Diperpanjang
- 7FTI UAJY Perkuat Kemampuan Komunikasi antara Dosen dengan Mahasiswa
- 8Penampilan Polisi Cilik di Upacara Penurunan Bendera Pemkab Kulon Progo Pukau Masyarakat
- 9Donatsur, Donat Lembut Jogja yang Selalu Antre Pembeli
- 10Melihat Tradisi Sedekah Jageran yang Sudah Berlangsung 16 Tahun Lamanya









