Kisah Ananto Kusworo, Awalnya Ditolak, Sedekah Sampah melalui Masjid Membawanya Raih Kalpataru

Akurat.co,Jogja-Penghargaan mungkin bukan tujuan utama Ananto Kusworo.
Tapi, sosok yang mendapat julukan Ustaz Sampah ini memang layak mendapatkannya.
Kepeduliannya atas persoalan sampah, membuat tekadnya kuat meski kerap mendapatkan penolakan dari lingkungan.
Baca Juga: Sosok Muhammad Rizky Perwira Zain, Raih Gelar Master UGM di Usia 22 Tahun
Ia pun meenerima penghargaan Kalpataru Nasional kategori Perintis Lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup.
Ananto membuktikan, sampah yang kerap dianggap tak bernilai menjadi sumber kebermanfaatan melalui Gerakan Sedekah Sampah yang diinisiasinya di Masjid Al-Muharram, Bantul.
Mendapat banyak penolakan di awal
Meski demikian, jalan meraih kesuksesan ini tak mudah. Berawal dari inisiasi pada 2013, upayanya kerap mendapatkan penolakan lingkungan.
Minimnya kepedulian terhadap permasalahan sampah, menjadi sumber utamanya.
“Sebelumnya memang banyak yang meragukan apa yang kami lakukan. Namun alhamdulillah, kami dapat memberikan bantuan dana untuk Palestina dan keperluan air bersih di Gunung Kidul," ujarnya dalam sebuah wawancara.
Konsistensi Ananto membuahkan hasil yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Ia terus bergerilya membina masyarakat, mulai dari lingkungannya di Kampung Brajan hingga akhirnya memiliki binaan ratusan masjid dan komunitas di seluruh Indonesia bahkan luar negeri.
Melalui Gerakan Sedekah Sampah, ia tak hanya mengoptimalkan cara kelola sampah, namun juga menggerakkan roda ekonomi hingga meningkatkan kualitas hidup di masyarakat.
Alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini menyebutkan bahwa tujuannya selama ini hanya untuk memberikan kebermanfaatan bagi lingkungan.
Menurutnya, delapan puluh persen dari permasalahan sampah dapat diatasi dengan memberikan edukasi dan pemahaman yang baik bagi masyarakat.
Dampak dari pengelolaan sampah yang baik pun tidak hanya baik bagi lingkungan, bahkan juga bagi sirkulasi ekonomi dengan sampah yang masih memiliki nilai manfaat atau nilai jual.
Baca Juga: Suka Diabaikan Pendaki, Dokter UMY Berikan Tips Mudah Kenali Gejala Hipotermia
Ia mencontohkan, sampah organik masih dapat diolah dan dipergunakan sebagai pupuk, selain dimanfaatkan sebagai pakan maggot yang nantinya menjadi pakan bagi hewan ternak.
Sementara untuk sampah anorganik, melalui Gerakan Sedekah Sampah, dapat memiliki nilai jual yang dapat dikelola.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Warga Sleman Jangan Panik! Sirine EWS Merapi Bakal Berbunyi Serentak 17 Agustus, Ini Alasannya
- 2Tangan Kroniyah Gemetar Saat Terima Kunci Rumah, Ini Sebabnya...
- 3Dari Posko NTT, Dirut PLN Pastikan Pasokan Listrik Aman selama Pelaksanaan HUT ke-81
- 4Lansia Hilang Saat Cari Rumput di Hutan Pathuk Tritis Sleman
- 5Donatsur, Donat Lembut Jogja yang Selalu Antre Pembeli
- 6Dampak El Nino, Status Siaga Darurat Kekeringan Sleman Berpotensi Diperpanjang
- 7FTI UAJY Perkuat Kemampuan Komunikasi antara Dosen dengan Mahasiswa
- 8Penampilan Polisi Cilik di Upacara Penurunan Bendera Pemkab Kulon Progo Pukau Masyarakat
- 9Donatsur, Donat Lembut Jogja yang Selalu Antre Pembeli
- 10Melihat Tradisi Sedekah Jageran yang Sudah Berlangsung 16 Tahun Lamanya





