Pakar UGM Ungkap Penyebab Enam Gunung Berapi Indonesia Erupsi Bersama

Akurat.co,Jogja-Enam gunung berapi di Indonesia mengalami erupsi dalam waktu bersamaan.
Keenam gunung masing-masing, Gunung Anak Krakatau, Semeru, Ile Lewotolok, Ibu, Lewotobi Laki-laki, dan Sinabung.
Fenomena in tersebut tergolong tidak biasa karena kejadian serupa jarang ditemukan dalam beberapa dekade terakhir.
Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Indranova Suhendro, mengungkap kenapa hal tersebut bisa terjadi.
Baca Juga: Belajar dari Pengalaman DIY, Sultan Imbau Warga Terdampak Erupsi Anak Krakatau Memakai Masker
Indranova menyebut setiap gunung api memiliki karakteristik dan siklus aktivitasnya masing-masing.
Menurutnya, dengan demikian kesamaan waktu erupsi atau lebih tepat dilihat sebagai pertemuan siklus aktivitas yang berbeda.
Ada gunung api yang memang memiliki frekuensi erupsi tinggi, seperti Semeru dan Anak Krakatau, sementara gunung lainnya memiliki periode istirahat yang lebih panjang sebelum kembali aktif.
Ketika siklus-siklus tersebut beririsan pada satu periode, sejumlah gunung api dapat terlihat aktif secara bersamaan.
“Menurut saya ini lebih ke masalah timing," ujarnya dikutip dari laman resmi UGM, Jumat (11/9).
Kesamaan jalur subduksi di Indonesia pun tidak otomatis menunjukkan adanya hubungan langsung antarsistem magma.
Setiap gunung memiliki sistem magma yang bekerja secara lokal, sehingga erupsi pada satu gunung tidak serta-merta menjadi pemicu bagi gunung lainnya.
Kemungkinan keterkaitan dapat lebih terbuka pada gunung-gunung yang lokasinya berdekatan, tetapi kondisi tersebut berbeda dengan enam gunung yang saat ini tersebar di wilayah Sumatra, Jawa, Selat Sunda, Nusa Tenggara, dan Maluku.
"Saat ini gunung-gunung yang mengalami erupsi berada pada posisi yang sangat jauh antar yang satu dengan yang lain, sehingga untuk membangkitkan satu sama lain itu nyaris tidak mungkin,” jelas Indranova.
Abu vulkanik dampak erupsi
Menurutnya, perbedaan karakter gunung membuat dampak erupsi tidak berhenti pada kawasan di sekitar kawah.
Abu vulkanik yang terbawa angin dapat mencapai wilayah yang lebih jauh dan mengganggu kualitas udara serta kesehatan, sementara gangguan terhadap penerbangan dapat merembet pada sektor pariwisata dan aktivitas ekonomi lainnya.
Karena itu, kesiapsiagaan masyarakat perlu dibangun berdasarkan pemahaman mengenai jenis bahaya yang mungkin muncul di wilayahnya, bukan semata-mata berdasarkan informasi bahwa sebuah gunung sedang erupsi.
“Kita harus sangat intens mengedukasi masyarakat untuk memberitahu bahwa ada bahaya yang jenisnya berbeda, ada yang jatuhan, ada yang aliran, supaya masyarakat lebih aware dan tidak panik,” katanya.
Baca Juga: Dampak Erupsi Anak Krakatau, Bandara YIA Siap Beroperasi 24 Jam
Untuk mendukung kesiapsiagaan tersebut, masyarakat dapat memanfaatkan MAGMA Indonesia, platform informasi yang menyediakan informasi aktivitas gunung api, termasuk status gunung dan peta kawasan rawan bencana.
Melalui informasi tersebut, masyarakat dapat mengetahui perkembangan status gunung sekaligus melihat zonasi kawasan rawan bencana sebagai dasar untuk menentukan tindakan ketika aktivitas meningkat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Prediksi Pertandingan PSIM vs PSM Makassar, Tuan Rumah Terbebani Wajib Menang
- 2K-24 Healthy Run 2026 di Jogja, Boleh Bawa Stroller?
- 3Gaji ASN Lewat KDMP, DPRD DIY Khawatirkan Keamanan Data
- 4Kolaborasi 5 Universitas APTIK di UAJY: Cetak Mahasiswa Ilmu Komunikasi Melek Teknologi AI
- 5Tangan di Saku, Manajer PSIM Iksan Mahar Meminta Maaf
- 6Hadapi PSIM, PSM Makassar Lakukan Persiapan Khusus
- 7Kapolda Baru DIY Bakal Terbitkan Aturan Unjuk Rasa
- 8Kalah 4 Kali Beruntun, Pelatih PSIM: Wajar Suporter Kecewa dan Marah
- 9Kalah 4 Kali Beruntun, Pelatih PSIM: Wajar Suporter Kecewa dan Marah
- 10Suporter PSIM Minta Van Gastel Dipecat Dalam Waktu 1x24 Jam







