18% Anak Sekolah di Sleman Terindikasi Darah Tinggi

Akurat.co, Jogja - Dinas Kesehatan (Dinkes) melakukan skrining kesehatan terhadap anak usia sekolah. Dari 56.140 siswa yang dilakukan skrining kesehatan, 18,42 persen terindikasi darah tinggi.
Ada 0,73 persen yang gula darahnya tinggi atau glikemia. Namun belum terdiagnosis ke Diabetes Melitus (DM). Ada 3,62 persen dalam kondisi pre diabetes.
"Kadar gula darahnya sampai menyentuh angka 300-400," kata Kepala bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sleman, Seruni Anggraeni Susila, Jumat (11/09/2026).
Seruni menyebutkan, gaya hidup yang kurang sehat jadi pemicu munculnya penyakit metabolik pada anak usia remaja ini. Salah satunya pola makan yang tidak terkontrol.
Baca Juga: Kontingen Korpri Sleman Siap Berlaga Di Ajang Porprida DIY
Tidak dapat dipungkiri, jika anak-anak sekarang lebih banyak mengkonsumsi makanan siap saji. Kurang buah dan sayur, sehingga gizinya tidak seimbang.
Selain itu, aktivitas fisik anak sekarang juga tidak sebanyak dulu. Karena sudah sibuk dengan gadget mereka.
Ini jelas jadi keprihatinan bagi semua pihak. Terutama keluarga untuk menjadi garda terdepan mengenalkan gizi seimbang pada anak-anak.
Untuk itu, pihaknya mengajak orangtua untuk mengutamakan makanan lokal dan mulai mengurangi memberikan makanan cepat saji, berpewarna dan berpengawet bagi buah hati mereka.
Baca Juga: Pemkab Sleman Gandeng dunia Usaha dan Kampus untuk Manfaat AI Bagi UMKM
"Kami dari Dinkes terus melakukan upaya promotif dan preventif bagi masyarakat terkait dengan gaya hidup sehat," ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut Seruni juga mengungkapkan, jika 61,2 persen remaja usia 10-21 tahun menjadi perokok aktif. Hal tersebut berdasarkan Hasil Survey Perilaku Merokok Usia 10-21 Tahun 2025 Kabupaten Sleman yang melibatkan 11.318 responden. Angka ini meningkat dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Kelompok usia 10–21 tahun dipilih sebagai sasaran survei karena dianggap sebagai fase penting dalam pembentukan perilaku kesehatan hingga memasuki usia dewasa.
Berdasarkan hasil survei tersebut, sekitar 6.926 remaja diketahui hidup serumah dengan anggota keluarga yang merokok. Kondisi ini menunjukkan, keluarga masih menjadi contoh perilaku yang dapat mempengaruhi anak untuk mengenal rokok sejak usia muda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Prediksi Pertandingan PSIM vs PSM Makassar, Tuan Rumah Terbebani Wajib Menang
- 2K-24 Healthy Run 2026 di Jogja, Boleh Bawa Stroller?
- 3Gaji ASN Lewat KDMP, DPRD DIY Khawatirkan Keamanan Data
- 412 Atlet SOIna DIY Siap Berlaga di PESONAS II 2026 Kupang
- 5Kolaborasi 5 Universitas APTIK di UAJY: Cetak Mahasiswa Ilmu Komunikasi Melek Teknologi AI
- 6Jelang Hari Santri 2026, Kemenag Sleman dan FKUB Reresik Pondok Pesantren
- 7Perjuangan Muhammad Yunus Kuliah di UNY, jadi Ojol Makanan saat Waktu Luang
- 8Ada Agenda Keagamaan, Laga PSIM vs PSM Digelar tanpa Penonton
- 9Kalah 4 Kali Beruntun, Pelatih PSIM: Wajar Suporter Kecewa dan Marah
- 10Suporter PSIM Minta Van Gastel Dipecat Dalam Waktu 1x24 Jam






