Jogja

Profil Gelandang Asing PSS Moussa Bagayoko, Pernah Main di Turki, Israel, hingga Venezuela

Haris Ma'ani | 19 Agustus 2026, 12:05 WIB
Profil Gelandang Asing PSS Moussa Bagayoko, Pernah Main di Turki, Israel, hingga Venezuela
Moussa Bagayoko, gelandang asing PSS asal Mali. -foto: dok.pss)

Akurat.co,Jogja-PSS kembali kedatangan legiun asing menyambut Super League 2026/2027.

Dia adalah gelandang asal Mali, Moussa Bagayoko. Merumput untuk pertama kalinya di liga kasta teratas sepak bola Indonesia, gelandang 27 tahun ini siap memberikan penampilan terbaik.

“Ya, ini adalah pengalaman pertama saya bermain di Indonesia. Saya punya alasan tersendiri memilih datang ke sini," ungkapnya.

Baca Juga: Kembali ke Super League, PSS Sleman Launching Jersey Baru

Menurutnya, alasan pertama mau bermain di Indonesia adalah suasana yang menyenangkan.

"aya senang berada di sini. Saya menikmati pengalaman baru ini dan merasa nyaman dengan lingkungan serta suasana di sini,” ujarnya dikutip dari laman resmi PSS, Rabu (19/8).

Meski baru pertama kali merasakan atmosfer sepak bola Indonesia, Moussa mengaku tak mengalami kendala dalam proses adaptasi.

“Alhamdulillah, saya menjalani proses adaptasi baik-baik saja. Saya termasuk orang yang cukup cepat beradaptasi.

Sejauh ini, saya merasa proses adaptasi dengan tim berjalan sangat baik, dan bisa dengan cepat menyatu dengan rekan-rekan di dalam tim,” terangnya.

Profil singkat Moussa Bagayoko

Nama: Moussa Bagayoko
Tempat/tanggal lahir, Bamako, Mali, 18 Desember 1998
Usia: 27 tahun
Tinggi: 1,81 meter
Posisi: gelandang

Karier profesional

2015–2017 Black Stars
2017–2018 Elazığspor
2018–2020 Adanaspor
2020–2022 F.C. Ashdod
2021–2022 (pinjaman) Hapoel Kfar Saba
2023–2024 Carabobo
2024–2025 Al-Shabab
2025 Real Bamako
2025–2026 Al-Watan
2026–..... PSS Sleman

Gelandang bertahan asal Mali yang pernah merumput di Liga Turki, Israel, hingga Venezuela itu memilih melanjutkan langkahnya bersama Elang Jawa.

Baca Juga: Profil Pedro Caracoci, Kiper Anyar PSS dengan Nilai Pasar di Bawah Rp1 M

Jarak ribuan kilometer, perbedaan bahasa, dan latar budaya seolah melebur ketika lambang Candi yang tersemat di dada menyatukan tujuan dalam satu perjuangan.

Kini, tanah Bumi Sembada menjadi bagian dari perjalanan barunya, tempat ia membangun cerita, beradaptasi dengan lingkungan, sekaligus memberikan kemampuan terbaiknya untuk Super Elja.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.