Jogja

Asal Muasal Nama Kampung Wota Wati di Lembah Bengawan Solo Purba yang Viral, Dulunya Dihuni Warga Pelarian Majapahit

Haris Ma'ani | 29 Juni 2026, 09:02 WIB
Asal Muasal Nama Kampung Wota Wati di Lembah Bengawan Solo Purba yang Viral, Dulunya Dihuni Warga Pelarian Majapahit
Potret Kampung Wota Wati yang memesona. (foto: pemda diy)

Akurat.co,Jogja-Kampung terpencil di wilayah Gunungkidul bernama Wota Wati menjadi viral.

Dusun berjarak sekitar 74 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta ini menyimpan sejumlah kisah unik, yang membuat banyak wisatawan penasaran.

Lurah Pucung, Estu Dwiyono menyampaikan, Padukuhan Wota wati adalah salah satu dari 10 padukuhan yang ada di Kalurahan Pucung, yang lokasinya terpencil di lembah Bengawan Solo Purba sehingga sulit diakses.

Baca Juga: Rekomendasi Lengkap Destinasi Wisata Gunungkidul Buat Isi Liburanmu, dari Pantai sampai Air Terjun

Namun keterbatasan tersebut, justru membuat padukuhan yang tertua di Kalurahan Pucung ini jadi memiliki daya tarik di sektor pertanian dan pariwisata.

Suasana di Kampung Wota Wati. (foto: pemda diy)

Kisah kampung Wota Wati

Dikutip dari laman resmi Pemda DIY, terkuak asal muasal keberadaan dukuh Wota Wati.

Berdasarkan cerita dari para sesepuh yang ada di padukuhan tersebut, konon penduduk pertama yang menginjakkan kaki di tanah bekas lembah Bengawan Solo Purba ini adalah dua orang pelarian dari Kerajaan Majapahit yang bernama Raden Joko Sukmo dan Nyi Arum Sukmawati.

Keduanya kemudian bertempat tinggal di Gua Putri yang berada di sekitar area yang kini menjadi Padukuhan Wotawati ini.

Agar dapat bertahan hidup, Raden Joko Sukmo dan Nyi Arum Sukmawati turun dari gua tersebut untuk mencari lahan bercocok tanam.

Ketika mencari lahan untuk bercocok tanam, keduanya pun harus melewati sungai kecil yang dahulu ada.

Baca Juga: Sekali Seumur Hidup Berwisatalah ke Gesing Wonderland, Ada Spot Foto Viral Bianglala

Maka, dibuatlah wot dari bambu yang digunakan untuk menyeberang.

Setelah jembatan itu jadi, Nyi Arum pun hendak menyeberangi. Nah, sampai di tengah-tengah jembatan itu, Nyi Arum Sukmawati terpeleset.

Ketika mau jatuh, Nyi Arum diselamatkan oleh Raden Joko Sukmo.

Nyi Arum akhirnya selamat dan bisa menyeberangi sungai tersebut.

Saat momen itulah, Arum Sukmawati sempat bekata, 'entah kapan di sini itu jadi dusun ataupun padukuhan, nanti jadi Padukuhan Wota Wati’.

Jadi kata Wotawati itu diambil dari wot-nya itu yang buat penyeberangan. Ditambah nama sosok yang menyeberangi dan sempat terpeleset adalah Sukmawati. Jadilah nama kampung tersebut menjadi Wota Wati.

Bangunan rumah di Kampung Wota-Wati yang masih dalam tahap pembangunan. (foto: pemda diy)

Sudah berusia 2 abad

Disebutkan, saat ini usia Kampung Wota Wati memasuki 200 tahun atau dua abad.

Kampung tersebut saat ini siap menyambut wisawatan setelah dipugar dengan menggunakan Dana Keistimewaan atau Danais.

Mulai pertengahan 2024, pekerjaan fisik sudah dilakukan dan mendapatkan kucuran anggaran Danais sebesar Rp5 miliar.

Alokasi Danais tersebut digunakan untuk penyusunan dokumen, pembangunan pagar, pembangunan pendopo, dan fasad rumah.

Dusun Wotawati mempunyai letak yang istimewa di sebuah lembah yang merupakan jejak dari aliran Sungai Bengawan Solo Purba.

Karena letak geografis yang unik tersebut, Dusun Wotawati terkenal dengan fenomena matahari terbit yang lebih lambat dari daerah lain sehingga minim mendapatkan paparan sinar matahari.

Estu menyatakan hal yang tak kalah menarik dapat ditemukan di Padukuhan Wota Wati adalah tata desa yang secara landscape cukup menarik.

Setiap dua hingga empat rumah kanan, kiri, depan, dan belakang memiliki akses jalan penghubung.

Dapat diibaratkan jalan-jalan yang ada di pemukiman Padukuhan Wota Wati ini layaknya sebuah labirin berupa gang-gang yang ada di perumahan modern saat ini.

Total ada 86 rumah warga yang bagian depannya dirombak menggunakan material bata merah. (foto: pemda diy)

Namun, pada dasarnya itu adalah bagian dari konstruksi para pendahulu di padukuhan tersebut, dimana permukimannya berada di kawasan lembah.

Total ada 86 rumah warga yang bagian depannya dirombak menggunakan material bata merah agar selaras dengan pagar benteng kampung.

Selain rumah warga, anggaran juga dialokasikan untuk membangun pendopo, gazebo, serta perbaikan infrastruktur jalan.

Baca Juga: Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke DIY Naik pada 2026

Membangun fisik rupanya jauh lebih mudah daripada menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM).

Estu mengakui bahwa menyadarkan masyarakat untuk terlibat aktif dalam pengembangan desa wisata memberikan tantangan yang luar biasa besar.

Meski pada awalnya ada sedikit penolakan kecil dari beberapa warga terkait keseragaman tembok, mayoritas masyarakat memberikan dukungan luar biasa.

Banyak warga yang dengan ikhlas merelakan sebagian tanah pribadinya dipangkas demi pembangunan pagar agar jalurnya simetris dan lurus.

Baca Juga: PAD Pariwisata Gunungkidul Capai Rp18,5 Miliar

Untuk menjamin keberlanjutan investasi budaya ini, pemerintah kalurahan mengambil langkah tegas dengan membuat komitmen hukum bersama warga.

"Tantangan terbesar adalah bagaimana warga merawat apa yang sudah dibangun.

Oleh karena itu, kami sudah membuat berita acara resmi bahwa selama 20 tahun ke depan, masyarakat tidak boleh mengubah bentuk atau membongkar bangunan tersebut tanpa persetujuan dari kami, dan semua warga setuju,” tegasnya.

Saat ini Kampung Wota Wati belum resmi dibuka. Belum ada retribusi resmi yang ditetapkan karena sarana dan prasarana belum siap seutuhhnya.

Meski begitu, pengelola mulai membuka sistem reservasi terbatas untuk rombongan yang ingin berkunjung.

Pariwisata di Wota Wati pun mulai ramai, meski sebenarnya kampung ini baru akan resmi dibuka akhir 2027 seiring selesainya pembangunan infrastruktur.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.