Cerita Siswa SMK N 1 Pandak Budidaya Melon Premium, Patahkan Stigma Gen Z Malu jadi Petani

Akurat.co,Jogja- Tangan kotor, badan bau pupuk, tak membuat Amanda Tasya, siswi kelas 11 SMK N 1 Pandak, Bantul, kehilangan semangatnya untuk bertani.
Siswi jurusan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura tersebut malah semakin mencintai dunia pertanian.
Bersama teman sekolahnya, Amanda mengelola kebun melon hidroponik.
Di lahan sekolah, mereka menanam dua varietas melon premium, sweet hami dan golden kirin.
Baca Juga: Berburu Tahu Goreng Bu Tini yang Legendaris dan Populer di Bantul
Menekuni dunia pertanian membuat Amanda jadi tahu dan mengenal lebih dalam terkait budidaya melon.
Ia jadi tahu proses demi proses pertanian melon sampai masa panen.
"Kami jadi tahu proses budidaya, mlai dari penyerbukan, sampai pada pemeliharaan," katanya.
Amanda menjelaskan proses paling penting adalah memotong tunas air setiap hari.
Sebab, hal ini berdampak pada kadar kemanisan dari melon premium yang ditanam.
“Setelah polinasi itu biasanya tumbuh tunas air. Itu kita potong setiap hari. Karena kalau telah dua hari saja, kadar manisnya akan berkurang," ujarnya.
Masa panen yang menyenangkan
Masa-masa yang paling dinanti dan menyenangkan bagi Amanda dan teman-temannya adalah saat panen tiba.
Untuk mengenali melon siap panen, Amanda dan murid lainnya akan mengecek corak tekstur pada kulit luar melon.
Jika corak telah terbentuk menyeluruh sampai penuh, itu tanda melon siap panen.
Daun yang menguning juga menjadi ciri lain yang mudah dihafal.
Baca Juga: Jadi Pusat Eskpor-Impor, Bantul Beri Perhatian Khusus Potensi Perdagangan Manusia
Setiap masa panen, SMK Negeri 1 Pandak juga menerapkan metode open farm.
Artinya, masyarakat umum bisa mendaftar untuk ikut memetik hasil panen.
Baik varietas sweet hami maupun golden kirin, keduanya dibanderol Rp30.000 per kilogram.
Dua jenis melon premium ini sama-sama manis alami tanpa tambahan pestisida. Yang membedakan adalah warna kulit dan kerenyahan daging.
Melon sweet hami berkulit hijau, sedangkan melon golden kirin memiliki warna kulit kuning semi oranye.
Patahkan stigma Gen Z malu jadi petani
Apa yang dilakukan Amanda dan teman sekolahnya seolah mematahkan stigma jikalau Gen Z dan milenial malu untuk menjadi petani.
Data BPS mencatat rata-rata petani Indonesia berada pada kelompok usia menengah, yakni berkisar antara usia 43-58 tahun.
Keberadaan Amanda dkk tentu menjadi harapan akan keberlanjutan sektor pertanian Indonesia.
Dikutip dari laman resmi Pemkab Bantul, Wakil Bupati Bantul, Aris Aris Suharyanta senang dengan inovasi pertanian di SMK N 1 Pandak.
Baca Juga: Kisah Pemuda Bantul Kembangkan Usaha Replika Dinosaurus
Ia menyebut, langkah tersebut merupakan sebuah terobosan yang diharapkan dapat menggugah petani milenial untuk mengikuti jejak serupa.
“Sistem hidroponik ini sangat efisien. Hasilnya juga baik. Rasa melonnya manis, dagingnya renyah. Punya nilai ekonomi yang tinggi," ujarnya.
"Ini sangat bagus untuk menggaet petani milenial serta mendukung ketahanan pangan Kabupaten Bantul,” tambah Aris.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Warga Sleman Jangan Panik! Sirine EWS Merapi Bakal Berbunyi Serentak 17 Agustus, Ini Alasannya
- 2Ega Rizky: Belum Kepikiran Pensiun, Masih Mau Berkarier Sakmampune
- 3Dari Posko NTT, Dirut PLN Pastikan Pasokan Listrik Aman selama Pelaksanaan HUT ke-81
- 4LKBN Antara Gelar Pameran Fotografi 'Merdeka' di Titik Nol Kilometer Yogya
- 5Belanja Rp20.000 di Pasar Kota Jogja Bakal Dapat Smartphone
- 6Lansia Hilang Saat Cari Rumput di Hutan Pathuk Tritis Sleman
- 7Tangan Kroniyah Gemetar Saat Terima Kunci Rumah, Ini Sebabnya...
- 8FTI UAJY Perkuat Kemampuan Komunikasi antara Dosen dengan Mahasiswa
- 9Donatsur, Donat Lembut Jogja yang Selalu Antre Pembeli
- 10Melihat Tradisi Sedekah Jageran yang Sudah Berlangsung 16 Tahun Lamanya






