Jogja

Tinggalkan Gadget, Ratusan Pelajar di Bantul Diajak Kembali ke Permainan Tradisional

Haris Ma'ani | 18 Juni 2026, 08:02 WIB
Tinggalkan Gadget, Ratusan Pelajar di Bantul Diajak Kembali ke Permainan Tradisional
Pelajar SD di Bantul bergembira bersama saat bermain permainan tradisional. (foto: Pemkab Bantul)

Akurat.co,Jogja-Gadget dan anak sekolah ditambah masa liburan menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua saat ini.

Tapi di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, ada cara menarik untuk mengalihkan anak-anak dari gadget.

Ratusan siswa sekolah dasar di wilayah tersebut diajak untuk kembali ke permainan tradisional.

Baca Juga: Leksa Ganesha Batik Bantul, Hadapi Tantangan Pengelolaan Limbah Sintetis

Mereka mengikuti Festival Permainan Tradisional Kabupaten Bantul tahun 2026 yang diinisiasi oleh Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI), Rabu (16/6/2026).

“Ayo tinggalkan dulu gadget (gawai), saatnya bermain! Karena sejatinya, dunia anak-anak memang dunia bermain,” tutur Ketua Penyelenggara Festival Permainan Tradisional, Yohanes Ariyanto.

Permainan tradisional mengasah motorik dan fisik anak

Tahun ini, ada tiga jenis permainan tradisional yang dipertandingkan, yakni bakiak, gobak sodor, dan egrang.

Dilansir dari laman resmi Pemkab Bantul, Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta, mengungkap ada banyak manfaat yang didapat dari kegiatan ini.

"Ini adalah warisan nenek moyang yang tidak boleh dilupakan, perlu dijaga. Permainan tradisional ini mencerminkan gotong royong, kebersamaan, dan kedisiplinan," katanya.

Baca Juga: Rampung 100 Persen, Kelok 23 Hubungkan Bantul-Gunungkidul siap Beroperasi 2027

Selain itu, permainan tradisional yang dilombakan turut mendukung motorik anak, kelincahan fisik, maupun ketangkasan.

Pada lomba egrang, misalnya. Tidak hanya seru, egrang juga melatih fisik dan mental.

Permainan tradisional ini efektif mengembangkan keseimbangan tubuh, serta memperkuat otot tangan dan kaki.

Atau dalam permainan gobak sodor. Permainan ini menuntut kerja sama tim, mengasah kemampuan berpikir strategis, hingga menanamkan nilai-nilai karakter seperti kejujuran dan disiplin.

Sepanjang permainan, sorak-sorai penonton di pinggir lapangan menambah kemeriahan festival. Hal ini menunjukkan bahwa antusias masyarakat terhadap permainan tradisional belum surut. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.