Jogja

Temuan BKKBN, 25% Anak Indonesia Mengalami Fatherless

Atiek Widyastuti | 25 Juni 2026, 15:50 WIB
Temuan BKKBN, 25% Anak Indonesia Mengalami Fatherless
Mendukbangga/Kepala BKKBN berbincang dengan para ayah yang mengambil raport. (Akurat.co/Atiek Widyastuti)

Akurat.co, Jogja - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengungkap fakta, jika 25 persen anak Indonesia mengalami fatherless.

Sebuah kondisi ketika seorang anak tumbuh tanpa kehadiran atau keterlibatan figur ayah, baik secara fisik maupun emosional. Selain itu, 30 persen remaja Indonesia sekarang juga mengalami masalah kesehatan mental.

"Dan hari ini, algoritma otak kita itu hampir 60-70 persen dipengaruhi teknologi. Dalam sehari, kita menghabiskan waktu 8,7 hingga 10 jam menatap layar," kata Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) / Kepala BKKBN Wihaji, saat mengunjungi MAN 1 Yogyakarta dalam rangka Program Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah (GEMAR), Kamis (25/06/2026).

Kedatangan Menteri disambut hangat oleh para siswa MAN 1 Yogyakarta serta Duta Generasi Berencana (GenRe) DIY. Dalam kesempatan tersebut, Wihaji juga sempat berbincang dengan sejumlah perwakilan siswa.

Baca Juga: 10 PTN Terbaik Indonesia Versi QS World University Rankings 2027, UGM Nomor 2

Termasuk dengan para ayah yang datang untuk mengambil rapor anak-anak mereka. Bahkan, Wihaji juga sempat berbincang dengan sejumlah anak yang sudah tidak memiliki ayah karena meninggal dunia.

Menurutnya, dalam suatu keluarga mulai jarang terjadi interaksi. Bahkan, tidak menutup kemungkinan anak dan orangtua tidak lebih dalam satu jam untuk saling berbicara satu sama lain.

"Selebihnya ya dihabiskan di layar gadget. Mulai dari bangun tidur, saat makan sampai mau tidur lagi," jelasnya.

Mengenai program GEMAR menurut menteri, menjadi bagian dari upaya Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN dalam mengimplementasikan Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Nomor 17 Tahun 2026 tentang Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah (GEMAR) dan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS).

Baca Juga: Sambut Musim Libur Sekolah, Kawasan Malioboro Dipastikan Bersih dan Nyaman

Program tersebut hadir sebagai langkah strategis untuk memperkuat peran ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak, sekaligus menjawab tantangan fenomena fatherless yang masih menjadi perhatian di Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri memberikan edukasi langsung kepada para siswa dan orang tua yang hadir untuk mengambil raport anak.

Pesan khusus disampaikan kepada para ayah agar lebih aktif terlibat dalam kehidupan, pendidikan, dan tumbuh kembang anak. Menurutnya, kehadiran ayah dalam proses pendidikan bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif di sekolah, tetapi menjadi bentuk nyata dukungan emosional yang mampu membangun rasa percaya diri, motivasi belajar, serta karakter anak.

“Peran ayah tidak dapat digantikan. Kehadiran ayah dalam momen-momen penting pendidikan anak merupakan investasi jangka panjang bagi terbentuknya generasi yang sehat, tangguh, dan berdaya saing,” ujar Menteri.

Baca Juga: 7 Destinasi Wisata Populer yang Dekat dengan Malioboro

Melalui kegiatan ini, Menteri berharap semakin banyak ayah yang terlibat aktif dalam proses pendidikan anak, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah. Kehadiran ayah tidak hanya memberikan dukungan moral, tetapi juga memperkuat ikatan emosional dalam keluarga yang pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan kualitas generasi penerus bangsa.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.