Jogja

15,9 Juta Anak Indonesia Berpotensi Fatherless, Pakar UGM Ungkap Dampak Negatif bagi dalam Kehidupan

M. Mubin Wibawa | 24 Oktober 2025, 08:05 WIB
15,9 Juta Anak Indonesia Berpotensi Fatherless, Pakar UGM Ungkap Dampak Negatif bagi dalam Kehidupan

Akurat.co,Jogja-Sekitar 15,9 juta anak di Indonesia berpotensi tumbuh tanpa adanya peran ayah atau fatherless dalam kehidupannya. Dari 15,9 juta itu, 4,4 juta anak tinggal di keluarga tanpa ayah.

Sementara itu, 11,5 juta anak lain tinggal bersama ayah dengan jam kerja lebih dari 60 jam per minggu atau lebih dari 12 jam per hari.

Padahal, peran ayah dalam keluarga merupakan hal penting dalam membentuk kepercayaan diri, nilai moral, hingga kecerdasan emosi seorang anak.

Baca Juga: UGM Satu-satunya Kampus Indonesia yang Raih SPS Media Relations Award 2025

Terkait fakta tersebut Dekan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Dr. Rahmat Hidayat mengungkap risiko nyata yang dihadapi anak hidup tanpa kehadiran ayah.

Menurutnya, ketidakhadiran figur ayah dalam keluarga berdampak pada perkembangan anak meliputi aspek psikologis hingga aspek sosial.

Ia menilai ketiadaan figur ayah memengaruhi pembentukan rasa percaya diri, hingga kesulitan dalam membentuk identitas diri.

“Banyak keluarga masa sekarang yang mengalami ketidakhadiran ayah karena faktor pekerjaan yang menuntut mobilitas tinggi. Namun, kehadiran ayah tetap dibutuhkan untuk mendukung perkembangan emosional dan sosial anak,” paparnya dikutip dari laman resmi UGM, Kamis (16/10).

Tiga proses tumbuh kembang anak

Rahmat mengatakan, terdapat tiga proses utama pembelajaran dalam perjalanan tumbuh kembang seorang anak yaitu observasional, behavioral dan kognitif.

Ketiganya membutuhkan sosok kehadiran peran ayah sebagai role model dalam mendukung perkembangan emosional.

Pembelajaran observasional itu sendiri ketika anak sejak usia dini belajar banyak hal melalui pengamatan perilaku orang lain untuk menjadi role model anak.

Ia menjelaskan, ketidakhadiran ayah secara emosional maupun fisik menyebabkan anak kehilangan sosok model perilaku utama baik dalam pengendalian diri, kedisiplinan, interaksi sosial, serta sikap bertanggung jawab.

“Pertama yang paling tidak disadari adalah proses belajar secara observasional dimana anak belajar melihat, mengamati, menirukan ini sebagai satu pola yang ada sejak anak-anak, dari masa kecil, dari lahir sampai seterusnya melalui belajar observasional.

Baca Juga: Defisit APBN Rp 371,5 Triliun, Pakar UGM Sebut Masih Sehat dan Terkendali

Dalam proses ini yang penting adalah siapa role model-nya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rahmat menjelaskan bahwa peran ayah dalam keluarga masih bisa digantikan secara terbatas oleh figur lain seperti ibu, guru, hingga keluarga besar yang dapat menjadi role model pengganti ayah.

Di dalam keadaan tertentu, ayah yang tidak bisa membersamai anak karena urusan pekerjaan justru memiliki kebanggaan tersendiri, asalkan dalam hubungan emosional antara anak dengan ayah berjalan dengan baik.

"Anak bisa merasa bangga ketika ayahnya bekerja di luar kota atau bahkan di luar negeri, selama komunikasi dan hubungan keduanya tetap hangat,” ujarnya.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.