Jogja

Pakar UGM Sebut Salju Abadi Puncak Jaya akan Hilang, Kenapa?

Haris Ma'ani | 18 April 2026, 12:03 WIB
Pakar UGM Sebut Salju Abadi Puncak Jaya akan Hilang, Kenapa?
Foto kondisi Puncak Jaya. (foto: bmkg)

Akurat.co,Jogja- Salju abadi yang selama ini ada di Puncak Jaya Papua disebut akan hilang.

Hal ini disampaikan pakar hidrometeorologi, iklim perkotaan, dan klimatologi lingkungan dari Fakultas Geografi UGM, Dr. Emilya Nurjani.

Emilya menjelaskan, lapisan es yang menyelimuti puncak Jaya Papua selama ribuan tahun diprediksi terancam akan hilang akibat peningkatan suhu bumi.

Baca Juga: UGM Luncurkan Kendaraan Listrik untuk Layanan Rumah Sakit

Ia menyampaikan ketebalan gletser di belahan Bumi utara dan selatan memang mengalami penyusutan baik dari segi luas maupun tebal.

Lebih spesifik, ia menyebutkan dua gunung es wilayah tropis dengan jumlah degradasi yang cukup signifikan, terjadi pada Puncak Gunung Kilimanjaro, Afrika dan Puncak Jaya, Indonesia.

Penyusutan lapisan es ini menurut Emilya disebabkan oleh dampak dari radiasi matahari dengan gelombang pendek merupakan sumber energi utama yang menggerakan cuaca dan iklim di bumi.

Menurutnya, segala jenis penggunaan atau penutupan lahan di permukaan di bumi akan menyerap dan melepaskan energi dari radiasi matahari, seperti pembukaan lahan untuk pertanian, pemukiman, waduk, beton, bahkan es dan salju di wilayah kutub.

Pakar klimatologi lingkungan ini menjelaskan, salah satu bentuk penyusutan gletser adalah mencairnya es di banyak wilayah kutub dan pegunungan di Benua Eropa.

Es yang mencair menyebabkan peningkatan volume air laut.

Volume air laut yang meningkat menyebabkan kenaikan muka air laut dan menyempitnya luas daratan rendah akibat terendam.

Baca Juga: UGM Buka Pendaftaraan Jalur Mandiri, Ini Jadwal, Biaya, dan Ketentuannya

“Dampak yang dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia adalah fenomena abrasi dan kenaikan muka air laut di daerah Semarang atau pesisir utara Jawa," katanya.

Untuk mencegah dampak yang semakin parah adalah mengupayakan dekarbonisasi, atau menurunkan peningkatan suhu permukaan bumi dengan mendorong dekarbonisasi lintas sektor dan regulasi pemanfaatan lahan perlu benar-benar diimplementasikan.

"Di tingkat rumah tangga, kita bisa membantu dengan melakukan penghematan listrik, mengurangi pemakaian bahan bakar fosil, dan apabila mungkin, berpartisipasi dalam usaha pohon untuk membantu menurunkan suhu udara dalam jangka panjang,” tuturnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.