Pakar UGM Ungkap Bahaya Pelemahan Rupiah terhadap Dolar, Beri Dampak Langsung ke Masyarakat

Akurat.co,Jogja-Pakar UGM mengungkap bahaya akibat pelemahan rupiah terhadap dolar.
Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Rijadh Djatu Winardiisi mengungkap, pelemahan rupiah memberikan tekanan ekonomi yang luar biasa kepada masyarakat.
Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah dinilai memiliki dampak yang relatif langsung terhadap harga barang yang dikonsumsi masyarakat.
Baca Juga: Kisah Inspirasi Dosen Disabilitas UGM Wuri Handayani, Sukses Raih Penghargaan Internasional
Hingga saat ini nilai tukar berkisar Rp 17.400 per satu dolar Amerika Serikat.
“Masyarakat akan mulai merasakan dampaknya dalam bentuk harga kebutuhan pokok yang meningkat, biaya transportasi yang naik, hingga harga produk kesehatan yang ikut terdampak,” ujarnya dilansir dari laman resmi UGM, Senin (11/5/2026).
Menurut Rijadh, perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor akan menghadapi peningkatan biaya produksi.
Meski masih memiliki stok lama, penyesuaian harga pada akhirnya sulit dihindari dan umumnya mulai diteruskan kepada konsumen dalam rentang waktu satu hingga beberapa bulan setelahnya.
Subsidi energi akan terdampak
Selain itu, Rijadh menyebut subsidi energi sebagai salah satu sektor yang paling terdampak, mengingat ketergantungan pada komponen impor yang membuat beban subsidi meningkat saat rupiah melemah.
Disamping itu, beban utang luar negeri juga menjadi faktor signifikan karena nilai pembayaran pokok dan bunga dalam rupiah ikut membengkak meskipun kewajiban dalam dolar tidak berubah.
"Ketika ruang fiskal terserap untuk subsidi dan utang, maka fleksibilitas pemerintah untuk membiayai sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, atau perlindungan sosial menjadi terbatas,” jelasnya.
Lebih lanjut, Rijadh menjelaskan upaya dalam meredam gejolak nilai tukar rupiah dinilai menempatkan Bank Indonesia pada posisi dilematis, antara menjaga stabilitas dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi.
Rijadh menilai bahwa di satu sisi menjaga suku bunga tetap relatif rendah penting untuk mendukung aktivitas ekonomi dan menjaga biaya kredit tetap terjangkau, sementara di sisi lain stabilitas nilai tukar juga harus dijaga.
Baca Juga: Tak Semua Pekerjaan Bisa Digantikan Robot, Pakar UGM Ungkap Fakta Terbaru Teknologi Ini
Baca Juga: Tak Semua Pekerjaan Bisa Digantikan Robot, Pakar UGM Ungkap Fakta Terbaru Teknologi Ini
Menurutnya, pendekatan yang dapat diambil bersifat kombinasi, mulai dari intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga volatilitas rupiah hingga pemanfaatan instrumen keuangan seperti surat berharga guna menarik aliran modal.
Rijadh menekankan pentingnya menjaga kredibilitas fiskal melalui disiplin belanja negara dan memperkuat sektor domestik untuk mengurangi ketergantungan impor, terutama pada pangan dan energi.
Ia menilai momentum pelemahan rupiah saat ini justru bisa dimanfaatkan untuk mendorong ekspor.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Prediksi Pertandingan PSIM vs PSM Makassar, Tuan Rumah Terbebani Wajib Menang
- 2K-24 Healthy Run 2026 di Jogja, Boleh Bawa Stroller?
- 3Gaji ASN Lewat KDMP, DPRD DIY Khawatirkan Keamanan Data
- 412 Atlet SOIna DIY Siap Berlaga di PESONAS II 2026 Kupang
- 5Kolaborasi 5 Universitas APTIK di UAJY: Cetak Mahasiswa Ilmu Komunikasi Melek Teknologi AI
- 6Jelang Hari Santri 2026, Kemenag Sleman dan FKUB Reresik Pondok Pesantren
- 7Perjuangan Muhammad Yunus Kuliah di UNY, jadi Ojol Makanan saat Waktu Luang
- 8Ada Agenda Keagamaan, Laga PSIM vs PSM Digelar tanpa Penonton
- 9Kalah 4 Kali Beruntun, Pelatih PSIM: Wajar Suporter Kecewa dan Marah
- 10Suporter PSIM Minta Van Gastel Dipecat Dalam Waktu 1x24 Jam









