Kemandirian Listrik Warga Dusun Kedungrong Kulon Progo, PLN Byar-pet Kampung Mereka Tetap Menyala

Akurat.co,Jogja-Warga Dusun Kedungrong, Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kulon Progo, bisa dibilang mandiri energi listrik.
Ketika sambungan listrik PLN byar-pet, bahkan sempat terjadi pemadaman di Pulau Jawa kemarin, listrik mereka tetap menyala.
Semua berkat Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Kedungrong yang mulai dibangun pada 2012.
Memanfaatkan aliran irigasi Sungai Kalibawang, PLTMH menjadi sumber energi menerangi rumah-rumah penduduk.
Baca Juga: Selama Ini Sewa, Sunardi Petani Kulon Progo Kini Tesenyum Terima Bantuan Alat Pertanian Modern
Ketua Pengelola PLTMH Kedungrong, Sumberini atau yang akrab disapa Rini, mengenang perjalanan panjang yang mengubah dusunnya menjadi salah satu contoh kemandirian energi berbasis komunitas di DIY.
Potensi air melimpah dari saluran irigasi Sungai Kalibawang, (foto: instagram/humasjogja)
Berawal dari potensi air yang ditemukan KKN UGM
Gagasan itu berawal pada 2009 saat mahasiswa KKN Universitas Gadjah Mada melihat besarnya potensi debit air Sungai Kalibawang yang mampu menggerakkan turbin mikrohidro.
Awalnya, PLTMH dibangun dalam skala kecil untuk penerangan jalan.
Kemudian pada 2012 dibangun dengan dukungan masyarakat, pemerintah daerah, Dinas PU ESDM DIY, dan BBWSO.
Dan sejak akhir November 2012 PLTM mulai beroperasi sampai sekarang.
"Dan sampai sekarang alhamdulillah masih terus berjalan," kata Rini.
Keberadaan saluran listtik dikelola swadaya melalui Komunitas Mikrohidro Terpadu Indonesia (KMTI) Kedungrong.
Dari sebuah inisiatif sederhana, PLTMH Kedungrong kini mampu melayani sekitar 50 kepala keluarga.
Daya listrik sebesar 18 kilowatt yang dihasilkan tidak hanya mencukupi kebutuhan penerangan rumah dan sekitar 30 titik lampu jalan, tetapi juga menopang berbagai aktivitas ekonomi warga.
Bengkel, pertukangan kayu, usaha jahit, laundry, salon, hingga usaha pembuatan es kristal dapat berjalan dengan dukungan energi bersih yang dihasilkan dari aliran air.
foto: instagram/humasjogja
Iuran Rp12.000
Demi mendukung keberlanjutan PLTMH warga menetapkan iuran rutin.
Setiap keluarga secara rutin membayar iuran Rp12.000 setiap 35 hari untuk mendukung operasional dan pemeliharaan pembangkit.
Nilai yang relatif kecil itu menjadi bukti kuatnya semangat gotong royong warga dalam menjaga sumber energi yang mereka miliki bersama.
Kesadaran kolektif inilah yang membuat PLTMH Kedungrong mampu bertahan dan terus beroperasi selama 14 tahun.
“Waktu kemarin terjadi pemadaman listrik di Jawa, dusun kami tetap terang. Bahkan banyak warga tidak tahu kalau ada pemadaman karena listrik mikrohidro tetap berjalan.
Selama aliran air lancar, listrik kami aman,” ujar Rini.
Baca Juga: PLN DIY Pastikan Layanan Listrik Kembali Normal
Cara kerja PLTMH Kedungrong
Dikutip dari laman resmi Pemda DIY, Teknisi PLTMH Kedungrong, Rejo Handoyo, menjelaskan sistem mikrohidro memanfaatkan aliran air yang dialihkan melalui sodetan menuju bak penampungan sebelum masuk ke turbin.
Putaran turbin kemudian menggerakkan generator yang mengubah energi mekanik menjadi energi listrik untuk dialirkan ke rumah-rumah warga.
Dari saluran irigasi dibuat sodetan untuk menampung air dengan kapasitas sekitar 800 hingga 1.500 meter kubik.
Air kemudian diatur masuk ke turbin sesuai kebutuhan.
Ketika turbin berputar, energi mekanik diteruskan ke generator dan diubah menjadi energi listrik yang kemudian disalurkan ke rumah-rumah warga.
Menurutnya, teknologi mikrohidro menunjukkan bagaimana potensi lokal dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Saat ini PLTMH Kedungrong menggunakan dua generator berkapasitas 18 kW yang dioperasikan secara bergantian.
Selain itu, kawasan pembangkit juga dilengkapi Laboratorium Terpadu Mikrohidro yang menjadi tempat riset dan pembelajaran energi terbarukan bagi mahasiswa, peneliti, maupun masyarakat umum.
Baca Juga: Kebutuhan Listrik DIY Banyak di Rumah Tangga dan Pariwisata, PLN Diminta Menyesuaikan
“Selama debit air mencukupi dan saluran terjaga dengan baik, listrik akan terus mengalir.
Karena itu kami bersama warga rutin melakukan pemeliharaan agar sistem tetap bekerja optimal,” tambah Rejo.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Warga Sleman Jangan Panik! Sirine EWS Merapi Bakal Berbunyi Serentak 17 Agustus, Ini Alasannya
- 2Ega Rizky: Belum Kepikiran Pensiun, Masih Mau Berkarier Sakmampune
- 3LKBN Antara Gelar Pameran Fotografi 'Merdeka' di Titik Nol Kilometer Yogya
- 4Dari Posko NTT, Dirut PLN Pastikan Pasokan Listrik Aman selama Pelaksanaan HUT ke-81
- 5Lansia Hilang Saat Cari Rumput di Hutan Pathuk Tritis Sleman
- 6Tangan Kroniyah Gemetar Saat Terima Kunci Rumah, Ini Sebabnya...
- 7Belanja Rp20.000 di Pasar Kota Jogja Bakal Dapat Smartphone
- 8Dampak El Nino, Status Siaga Darurat Kekeringan Sleman Berpotensi Diperpanjang
- 9Diikuti 1.000 Peserta, Pengibaran Bendera Merah Putih di Laut Selatan Berlangsung Aman
- 10Penampilan Polisi Cilik di Upacara Penurunan Bendera Pemkab Kulon Progo Pukau Masyarakat









