Jogja

Ketua Dewan Jamu Indonesia Prihatin RI Masih Impor Bahan Baku Obat padahal Miliki Kekayaan Hati yang Besar

Haris Ma'ani | 26 Mei 2026, 10:02 WIB
Ketua Dewan Jamu Indonesia Prihatin RI Masih Impor Bahan Baku Obat padahal Miliki Kekayaan Hati yang Besar
Potret minuman herbal atau jamu. (foto: unsplash.com/@wafieqakmal)

Akurat.co,Jogja-Ketua Dewan Jamu Indonesia DIY, Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku obat dari luar.

Padahal, kata dia, kekayaan hayati yang dimiliki Indonesia begitu luar biasa.

"Kita punya kekayaan hayati luar biasa, tetapi masih banyak mengimpor bahan obat," tegasnya.

Baca Juga: 2.955 Peserta Lolos Seleksi SNBT 2026 UPN “Veteran” Yogyakarta

Nyoman juga mengungkapkan Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang sangat besar, tetapi masih bergantung pada impor bahan baku obat.

Ia menilai kondisi tersebut menjadi tantangan bersama untuk mengembangkan potensi tanaman herbal lokal. Terutama dijadikan sebagai jamu.

Menurutnya, pengembangan jamu akan berdampak pada kesehatan masyarakat sekaligus mendorong ekonomi dan kelestarian lingkungan.

"Kalau pengembangan jamu berjalan baik, manfaatnya bisa dirasakan untuk kesehatan, ekonomi, hingga lingkungan,” ujarnya.

Demi meningkatkan dan melestarikan tanaman obat herbal, Nyoman mengajak masyarakat untuk kembali melakukan budaya minum jamu.

Terlebih jamu tradisional Indonesia juga memiliki peran penting dalam pencegahan penyakit di masyarakat.

Nyoman menyebut berbagai penyakit seperti diabetes, asam urat, hipertensi, hingga kanker sebenarnya dapat dicegah melalui pola hidup sehat yang salah satunya didukung konsumsi jamu.

Menurut Nyoman, budaya minum jamu perlu terus dihidupkan kembali agar masyarakat tidak bergantung sepenuhnya pada pengobatan ketika sudah sakit.

"Jamu memiliki posisi untuk menjaga kebugaran dan membantu mencegah penyakit.

Karena itu budaya minum jamu perlu terus diperkuat,” katanya saat peringatan Hari Jamu Nasional di UGM, Senin (25//5/2026).

Sementara itu, dalam kesempatan sama Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko menyampaikan, jamu memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, bahkan sudah lekat dengan pengalaman keseharian sejak lama.

Ia mengenang masa kecilnya yang akrab dengan kebiasaan minum jamu dari orang tuanya.

Menurutnya, pengalaman sederhana semacam itu menunjukkan jamu tumbuh sebagai bagian dari budaya hidup masyarakat Indonesia.

“Saya masih ingat waktu kecil saya tidak doyan makan dan orang tua saya memberi jamu," kenangnya.

Dari ia mengenal jamu. Pengalaman sederhana itu memperlihatkan bahwa jamu sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak lama.

Baca Juga: Rumah Warga Jogja yang Roboh akibat Hujan Lebat Akhirnya Diperbaiki

Danang menjelaskan UGM memiliki kekuatan besar untuk mengembangkan riset jamu karena didukung keberagaman disiplin ilmu dari 18 fakultas, dua sekolah, dan berbagai pusat studi.

Ia mengungkapkan berbagai fakultas di UGM telah berkontribusi dalam pengembangan jamu, mulai dari Fakultas Farmasi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Fakultas Ilmu Budaya, hingga Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Pertanian.

“Tantangan kita sekarang adalah bagaimana jamu semakin diterima sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan masyarakat," tuturnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.