Guru Besar UGM Ungkap Kesalahan Pemerintah dalam Kasus MBG, Hanya Kejar 82 Juta Penerima Manfaat

Akurat.co,Jogja-Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Sri Raharjo mengungkap kesalahan terbesar pemerintah dalam kasus Makan Bergizi Gratis (MBG).
Fokus mengejar kuantitas 82 juta penerima manfaat disebutkan sebagai kesalahan utama.
Akibatnya, berbagai kesiapan pendukung, mulai dari infrastruktur, sumber daya manusia, hingga sistem keamanan pangan, belum sepenuhnya siap ketika program mulai dijalankan.
Baca Juga: Terkendala Teknis dan Administratif, 35 Dapur MBG Berhenti Sementara
Kondisi tersebut, menurutnya, terlihat dari munculnya sejumlah kasus keracunan makanan yang baru diikuti dengan pembenahan standar sanitasi dan higiene.
"Targetnya memang demikian ambisius, tidak memedulikan proses atau kesiapan untuk mendukung penyelenggaraan itu,” ujarnya dikutip dari ugm.ac.id, Rabu (1/7/2026).
Ia menilai skema MBG yang melibatkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yayasan, dan mitra pelaksana menciptakan rantai pengelolaan yang panjang sehingga membuka lebih banyak titik yang perlu diawasi.
Menurutnya, semakin banyak perantara yang terlibat, semakin besar peluang munculnya praktik rente maupun kickback apabila pengawasan tidak berjalan optimal.
Karena itu, ia mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan mekanisme yang lebih sederhana, misalnya melalui kantin atau dapur sekolah yang telah berjalan sehingga rantai birokrasi dapat dipersingkat dan pengelolaan anggaran menjadi lebih mudah diawasi.
Karena jumlah penerima manfaat yang sedemikian besar, Sri juga menyoroti besarnya anggaran yang dialokasikan untuk MBG melalui pembentukan Badan Gizi Nasional (BGN).
Menurutnya, kebijakan tersebut berdampak pada berkurangnya alokasi anggaran di kementerian maupun pemerintah daerah.
Ia menilai pemerintah seharusnya belajar dari pengalaman program penurunan stunting yang telah berjalan selama bertahun-tahun, alih-alih membangun sistem baru tanpa menjadikan praktik baik sebelumnya sebagai acuan.
"Saya katakan “too much too soon”. Lesson learned dari program penurunan stunting seharusnya dijadikan acuan dalam perancangan MBG,” katanya.
Baca Juga: Ketua Baznas DIY Pastikan Dana Zakat Tidak Digunakan untuk MBG
Sri menjelaskan jika program penurunan stunting sebelumnya melibatkan berbagai kementerian sesuai tugas dan fungsinya.
"Pendekatan tersebut lebih sistematis dibanding membentuk lembaga baru dengan kebutuhan anggaran yang besar,” tuturnya.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Prediksi Pertandingan PSIM vs PSM Makassar, Tuan Rumah Terbebani Wajib Menang
- 2K-24 Healthy Run 2026 di Jogja, Boleh Bawa Stroller?
- 3Gaji ASN Lewat KDMP, DPRD DIY Khawatirkan Keamanan Data
- 4Kolaborasi 5 Universitas APTIK di UAJY: Cetak Mahasiswa Ilmu Komunikasi Melek Teknologi AI
- 5Tangan di Saku, Manajer PSIM Iksan Mahar Meminta Maaf
- 6Hadapi PSIM, PSM Makassar Lakukan Persiapan Khusus
- 7Kapolda Baru DIY Bakal Terbitkan Aturan Unjuk Rasa
- 8Kalah 4 Kali Beruntun, Pelatih PSIM: Wajar Suporter Kecewa dan Marah
- 9Kalah 4 Kali Beruntun, Pelatih PSIM: Wajar Suporter Kecewa dan Marah
- 10Suporter PSIM Minta Van Gastel Dipecat Dalam Waktu 1x24 Jam









