Pakar UGM Ungkap Kekeringan Dapat Berlangsung hingga Awal 2027

Akurat.co,Jogja-Dosen UGM dari Departemen Geografi Lingkungan, Dr.Emilya Nurjanu mengungkap ancaman kekeringan di Indonesia bisa berlangsung sampai awal 2027.
Menghadapi fenonema ini, ia mendorong agar pemerintah mengubah pendekatan yang lebih komprehensif.
Baca Juga: Rektor UGM Pastikan Pelaksanaan PIONIR Nyaman dan Bermakna bagi Maba
Dari yang hanya sekadar merespons setelah kekeringan terjadi dapat dikembangkan menjadi melakukan antisipasi berbasis informasi iklim.
Adapun informasi tersebut dapat digunakan untuk menyesuaikan kalender dan pola tanam, memilih komoditas atau varietas yang lebih tahan terhadap kekeringan, mengatur distribusi air irigasi, serta menyediakan cadangan air bagi masyarakat dan sektor pertanian.
"Pada saat kondisi kekeringan yang sangat panjang, maka yang perlu dilakukan adalah mengubah pendekatan dari respons setelah terjadi kekeringan menjadi antisipasi berbasis informasi iklim,” tuturnya.
Di sisi lain, pemerintah daerah perlu memperkuat infrastruktur penyimpanan air, seperti waduk, kolam retensi, dan sistem pemanenan air hujan.
Upaya tersebut perlu disertai dengan perlindungan daerah tangkapan air dalam jangka panjang.
Ia menambahkan bahwa pemerintah juga perlu melakukan pemetaan risiko berbasis wilayah agar kebijakan dan intervensi dapat disesuaikan dengan karakteristik serta tingkat kerentanan masing-masing daerah.
"Menghadapi El Nino bukan hanya bagaimana kita menghadapi kekeringan ketika sudah terjadi, tetapi bagaimana kita menggunakan informasi iklim untuk bertindak lebih awal,” ujar Emilya dikutip dari laman resmi UGM, Senin (10/8).
Panjangnya musim kemarau tak lepas dari ancaman El Nino yang datang bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif mulai membayangi Indonesia.
Baca Juga: 11.099 Mahasiswa Baru UGM Ikuti PIONIR 2026
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menilai fenomena El Niño tahun 2026 dapat berkembang menjadi kategori kuat, hingga berpeluang 75 persen untuk meningkat menjadi amat kuat pada Agustus hingga Oktober.
Kombinasi keduanya berpotensi mengurangi curah hujan dan memicu persoalan berantai, mulai dari kekeringan, krisis air, hingga gangguan terhadap sektor ketahanan pangan.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Prediksi Pertandingan PSIM vs PSM Makassar, Tuan Rumah Terbebani Wajib Menang
- 2K-24 Healthy Run 2026 di Jogja, Boleh Bawa Stroller?
- 3Gaji ASN Lewat KDMP, DPRD DIY Khawatirkan Keamanan Data
- 412 Atlet SOIna DIY Siap Berlaga di PESONAS II 2026 Kupang
- 5Kolaborasi 5 Universitas APTIK di UAJY: Cetak Mahasiswa Ilmu Komunikasi Melek Teknologi AI
- 6Jelang Hari Santri 2026, Kemenag Sleman dan FKUB Reresik Pondok Pesantren
- 7Perjuangan Muhammad Yunus Kuliah di UNY, jadi Ojol Makanan saat Waktu Luang
- 8Ada Agenda Keagamaan, Laga PSIM vs PSM Digelar tanpa Penonton
- 9Kalah 4 Kali Beruntun, Pelatih PSIM: Wajar Suporter Kecewa dan Marah
- 10Suporter PSIM Minta Van Gastel Dipecat Dalam Waktu 1x24 Jam






