Tren Micro Tourism Meningkat, Pakar UGM Ungkap Penyebabnya

Akurat.co,Jogja-Tren micro tourism mengalami peningkatan di sektor pariwisata nasional pada libur natal dan tahun baru ini.
Microturism merupakan tren berwisata dengan berfokus pada perjalanan dengan skala kecil, jarak dekat, dan durasi singkat.
Pola perjalanan ini menekan biaya perjalanan tanpa mengurangi intensitas rekreasi, dengan fokus pada eksplorasi area lokal yang dinilai lebih aman.
Baca Juga: Rekomendasi Lengkap Wisata di Kulon Progo, dari Pantai sampai Indahnya Alam Pegunungan
Pakar UGM mengungkap penyebabnya
Tren peningkatan micro tourism salah satunya disebabkan oleh mahalnya tiket pesawat.
Peneliti Pariwisata UGM, Dr. M. Yusuf, M.A mengatakan, mahalnya harga tiket membuat orang berpikir dua kali untuk berwisata jauh.
Yusuf melontarkan kritik keras terhadap wacana mengenai subsidi tiket pesawat. Ia menilai subsidi tiket hanya strategi pemasaran yang tidak menyelesaikan akar persoalan mahalnya biaya transportasi udara.
"Gagasan subsidi tiket hanyalah bahasa pemasaran. Lebih tepat jika ditempuh melalui prosedur penurunan pajak suku cadang pesawat dan maskapai bandara juga harga avtur,” tuturnya.
Masyarakat pun memilih berwisata dengan jarak dekat ditambah akses transportasi mudah serta persepsi soal keamanan. Seperti halnya ke Yogyakarta.
Selain aksesibilitas, faktor perceived safety (persepsi keamanan) terhadap bencana alam juga menjadi pertimbangan krusial wisatawan.
“Wisatawan mempersepsikan Jogja memiliki tingkat keamanan yang tinggi atau risiko kerawanan yang rendah sehingga banyak sekali wisatawan hingga membeludak,” ujar Yusuf, Senin (2/1), sebagaimana dikutip dari laman resmi UGM.
Di sisi lain, Yusuf juga menyoroti penumpukan wisatawan (overtourism) yang kerap terjadi pada akhir pekan.
Baca Juga: Asal Nama Jalan Malioboro Yogyakarta, Ikon Wisata Nasional yang Mendunia
Sebagai solusi, ia menyarankan agar pengelola wisata dapat megembangkan weekdays tourism melalui Health and wellness tourism.
Dikarenakan peluang untuk menciptakan program wisata pada hari kerja sangat terbuka lebar.
Apalagi program ini akan meringankan beban infrastruktur dan akan memecah tumpukan pengunjung di akhir pekan.
“Sasarannya adalah segmen pengusaha, pensiunan, hingga pekerja remote yang tidak terikat jam kantor,” jelasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Warga Sleman Jangan Panik! Sirine EWS Merapi Bakal Berbunyi Serentak 17 Agustus, Ini Alasannya
- 2Ega Rizky: Belum Kepikiran Pensiun, Masih Mau Berkarier Sakmampune
- 3LKBN Antara Gelar Pameran Fotografi 'Merdeka' di Titik Nol Kilometer Yogya
- 4Dari Posko NTT, Dirut PLN Pastikan Pasokan Listrik Aman selama Pelaksanaan HUT ke-81
- 5Lansia Hilang Saat Cari Rumput di Hutan Pathuk Tritis Sleman
- 6Tangan Kroniyah Gemetar Saat Terima Kunci Rumah, Ini Sebabnya...
- 7Belanja Rp20.000 di Pasar Kota Jogja Bakal Dapat Smartphone
- 8Dampak El Nino, Status Siaga Darurat Kekeringan Sleman Berpotensi Diperpanjang
- 9Melihat Tradisi Sedekah Jageran yang Sudah Berlangsung 16 Tahun Lamanya
- 10Diikuti 1.000 Peserta, Pengibaran Bendera Merah Putih di Laut Selatan Berlangsung Aman









