Serangan AS dan Israel ke Iran, ini Posisi Ideal Indonesia Menurut Dosen HI UPN Veteran Jogja

Akurat.co, Jogja - Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran akhir pekan lalu, memicu kekhawatiran eskalasi konflik yang lebih luas.
Apalagi pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran Ayatollah Sayyid Ali Khamenei dan sejumlah petinggi lainnya, dilaporkan meninggal dunia dalam serangan tersebut sehingga memicu serangan balasan dari Iran.
Menurut Dosen Prodi Ilmu Hubungan Internasional UPN “Veteran“ Yogyakarta, Machya Astuti Dewi, posisi terbaik Indonesia adalah menjadi negara penyeru resolusi konflik.
Menurutnya, hal ini sangat dimungkinkan mengingat Indonesia adalah salah satu negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia yang tentu kredibel di mata Iran, namun sekaligus bukan musuh Amerika.
Baca Juga: UPN Yogyakarta Sediakan 5.915 Kursi Mahasiswa Baru 2026
“Indonesia dapat menggunakan identitas sebagai negara Muslim demokratis terbesar di dunia untuk mengambil langkah persuasif ke Iran agar tidak mengarah ke eskalasi konflik. Mengingat dampaknya akan sangat merugikan perekonomian negara-negara Islam yang mayoritas adalah negara berkembang. Sementara kepada AS Indonesia perlu meyakinkan, serangan militer dapat memunculkan radikalisme di negara-negara Muslim yang cepat atau lambat dapat merugikan kepentingan ekonomi AS akibat aksi-aksi boikot,“ ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (03/02/2026).
Machya mengungkapkan, Indonesia juga dapat menggunakan posisinya sebagai salah satu pemimpin Global South untuk menyuarakan, konflik Iran versus Israel-AS dapat mengganggu keamanan energi dan pangan dunia.
Harapannya peran Indonesia akan menguat dengan dukungan dari berbagai negara yang sama-sama tidak menginginkan harga minyak dunia melonjak akibat konflik.
Diplomasi Lewat Organisasi Internasional
Di sisi lain, menurut Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi tersebut menilai, jika Indonesia dapat mengoptimalkan peran membantu penyelesaian konflik melalui berbagai organisasi internasional.
Baca Juga: UPN Veteran Yogyakarta Lepas 340 Wisudawan, Terbanyak dari Fakultas Ini
Pertama, melalui PBB Indonesia dapat menggalang dukungan di Sidang Umum PBB. Bahkan jika berhadapan dengan veto Indonesia bisa menghimpun kekuatan negara-negara berkembang (Global South) untuk mengeluarkan resolusi "Uniting for Peace".
“Walaupun secara hukum tidak sekuat Dewan Keamanan PBB. Namun resolusi ini tetap memberi tekanan moral dan politik yang besar ke seluruh dunia,” tuturnya.
Kedua, melalui Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Posisi Indonesia di OKI sangat disegani karena dianggap netral dibandingkan negara-negara Timur Tengah. Melalui OKI Indonesia dapat menggalang solidaritas sesama Muslim menyerukan agar serangan dihentikan.
Ketiga, melalui G20 Indonesia bisa mengingatkan negara-negara besar bahwa perang Iran versus Israel-AS akan menyebabkan melonjaknya harga minyak dunia, yang berdampak inflasi global.
Keempat, ada harapan dalam posisi Indonesia di Board of Peace (Dewan Perdamaian) dapat meningkatkan kepercayaan dunia akan peran Indonesia dalam menjaga keamanan dunia. Selama ini Indonesia telah menunjukkan reputasi baik dalam mendorong perdamaian dunia melalui pengiriman pasukan penjaga perdamaian (Kontingen Garuda) ke berbagai wilayah konflik.
“Indonesia juga dipandang netral karena tidak berafiliasi dengan kekuatan ideologi manapun (Non Blok). Meskipun demikian, kekuatan hak veto dari the Big Five tetap perlu untuk dipertimbangkan dalam menilai efektivitas peran Indonesia di Board of Peace. Hal terpenting yang perlu diingat adalah keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace diidentikkan sebagai kedekatan Indonesia dengan AS, sebuah realita yang tidak diinginkan oleh Iran,“ imbuhnya.
Ia juga berpendapat mengenai rencana Presiden Prabowo untuk jadi penengah konflik Iran versus Israel-AS. Hal itu menurutnya sangat menarik dan perlu diapresiasi. Namun, pertanyaannya mungkinkah peran itu dilakukan atau efektifkah?
Karena menurutnya, mediasi yang efektif memerlukan mediator kredibel yang dipercaya oleh pihak-pihak yang sedang berkonflik. Terkait dengan Iran, Indonesia memiliki hubungan yang baik, apalagi sama-sama negara Muslim.
Sementara dengan AS, Indonesia juga memiliki hubungan baik. Namun tidak memiliki kekuatan persuasif terhadap AS.
Baca Juga: UPN 'Veteran' Yogyakarta Salurkan Bantuan Kemanusiaan Bagi Korban Banjir Aceh dan Sumatera
“Sedangkan dengan Israel, Indonesia bahkan tidak memiliki hubungan diplomatik. Tentu fakta ini menjadi penghalang efektivitas mediasi,“ tuturnya.
Problem berikutnya, lanjutnya adalah political will dari masing-masing pihak yang sedang berkonflik. Saat ini pertanyaan mendasarnya adalah apakah Iran, Israel dan AS mau menghentikan serangan dan duduk bersama menyelesaikan masalah? Serangan-serangan masih terus berlangsung dan belum ada sinyal bahwa masing-masing pihak bersedia melakukan perundingan.
“Tentu keinginan presiden Prabowo menjadi mediator menjadi bukti nyata dari sikap Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia. Namun saat ini masih menjadi teka-teki akankah dapat direalisasikan,“ pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





