Terima Kunjungan Komisi IX DPR RI, Wali Kota Jogja Beberkan Penanggulangan Campak

Akurat.co,Jogja-Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo membeberkan program penanggulangan campak di wilayahnya saat menerima kunjungan Komis IX DPR RI.
Dalam kesempatan tersebut, Hasto mengungkapkan tren campak yang angkanya sebenarnya menurun.
Tahun 2024 angkanya 4,12. Tahun 2025 turun menjadi 3,46. Tetapi kalau dilihat dari kasusnya juga belum bisa dihitung sebagai tren tertentu.
Baca Juga: Pemudik Diimbau Waspada Lonjakan Campak, Jangan Asal Cium Bayi
"Dari pemetaan yang ada, tidak menunjukkan adanya suatu pola,” ujar Hasto.
Hasto juga mengungkapkan capaian imunisasi campak di Kota Yogyakarta sebenarnya cukup tinggi pada dosis pertama, namun mengalami penurunan pada dosis kedua.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, capaian imunisasi MR1 pada tahun 2021 mencapai 99,60 persen, kemudian 96,63 persen pada 2022, 96,85 persen pada 2023, 96,74 persen pada 2024, dan 96,63 persen pada 2025.
Sementara cakupan MR2 tercatat 81,30 persen pada 2021, meningkat menjadi 85,56 persen pada 2022, lalu 87,98 persen pada 2023, 90,86 persen pada 2024, dan kembali turun menjadi 88,78 persen pada 2025.
Baca Juga: Pemkot Jogja Minta Masyarakat Waspada Campak, Kenali Gejala yang Terjadi
Adapun capaian imunisasi melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) MR juga relatif tinggi, yakni 93,80 persen pada 2021, 94,93 persen pada 2022, 97,03 persen pada 2023, 95,96 persen pada 2024, dan 96,20 persen pada 2025.
Ia juga menekankan pentingnya ketersediaan vaksin agar tidak terjadi kekosongan stok (stock out) yang dapat menghambat efektivitas program imunisasi.
Bayi yang belum imunisasi terkena campak
Hasto mengungkap fakta sejumlah kasus campak di Kota Yogyakarta justru terjadi pada bayi yang usianya masih di bawah jadwal imunisasi pertama.
Saat ini program imunisasi campak diberikan pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan 6 tahun.
Menurutnya, kasus positif di Jogja banyak yang usianya kurang dari 9 bulan. Ada yang 8 bulan, ada yang 10 bulan.
"Ini menjadi pertanyaan karena kebijakan imunisasi pertama diberikan pada usia 9 bulan,” jelasnya.
Sementara itu, pimpinan kunjungan Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani, mengatakan kunjungan ini bertujuan melihat langsung kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi potensi peningkatan kasus campak sekaligus mendorong kolaborasi lintas sektor.
Baca Juga: Campak Masih Jadi Ancaman, Cegah dengan Imunisasi
Ia mengungkapkan bahwa secara nasional kasus campak masih menjadi perhatian serius.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga awal 2026, tercatat lebih dari 10 ribu kasus suspek campak di Indonesia dengan sejumlah kasus terkonfirmasi serta kematian.
“Karena itu kami menyampaikan kepada masyarakat untuk tidak panik, namun tetap aktif dan bersama-sama mencari solusi terhadap persoalan yang sedang terjadi,” kata Netty, Senin (30/3/2026).
Ia menambahkan bahwa salah satu tantangan dalam pengendalian campak adalah cakupan imunisasi yang belum mencapai target ideal.
Saat ini cakupan imunisasi nasional masih berada di sekitar 82–85 persen, sementara target minimal yang diharapkan berada di atas 90 persen.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









