Jogja

BMKG Ungkap Pemahaman Potensi Gempa Bumi Jadi Kunci Upaya Mitigasi Bencana

Atiek Widyastuti | 22 April 2026, 13:53 WIB
BMKG Ungkap Pemahaman Potensi Gempa Bumi Jadi Kunci Upaya Mitigasi Bencana
Ilustrasi gempa bumi (Dok. Akurat)

Akurat.co, Jogja - Wilayah Selatan Pulau Jawa, termasuk DIY merupakan kawasan yang berada di zona pertemuan lempeng aktif (subduksi) yang memiliki potensi gempa bumi dan tsunami.

Pemahaman terhadap potensi tersebut menjadi langkah penting dalam upaya pengurangan risiko bencana.

Secara ilmiah, gempa bumi tidak dapat diprediksi waktu kejadiannya secara pasti.

Namun, potensi gempa di suatu wilayah dapat dikaji melalui pendekatan riset dan teknologi kebumian.

Baca Juga: BPBD DIY Data Kerusakan akibat Gempa Pacitan, Wilayah Bantul Paling Terdampak, 40 Warga Dirawat

Salah satu hasil kajian tersebut adalah estimasi magnitudo maksimum, seperti potensi gempa hingga M 8,7 di zona subduksi selatan Jawa.

"Angka ini merupakan parameter ilmiah untuk kepentingan mitigasi, bukan prediksi kejadian gempa dalam waktu dekat," kata Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Sleman, Ardhianto Septiadhi dalam siaran persnya, Rabu (22/04/2026).

Dalam kajian kegempaan juga dikenal konsep periode ulang (recurrence interval). Perkiraan rata-rata waktu antar kejadian gempa besar di suatu segmen megathrust.

Perlu dipahami, periode ulang bukanlah jadwal pasti kejadian gempa, melainkan pendekatan probabilistik dengan rentang waktu yang dapat mencapai puluhan hingga ratusan tahun.

Baca Juga: Pasca Gempa, KAI Daop 6 Yogya Sempat Hentikan Sementara Perjalanan 14 Kereta

Oleh karena itu, konsep ini tidak dapat digunakan untuk menentukan kapan gempa akan terjadi.

Berbagai kajian potensi tersebut dimanfaatkan sebagai dasar dalam :

  • Penyusunan peta bahaya gempabumi dan tsunami untuk mengidentifikasi wilayah berisiko

  • Penentuan jalur dan tempat evakuasi masyarakat

  • Pengembangan sistem peringatan dini tsunami yang cepat, tepat, dan akurat

  • Perencanaan tata ruang dan Pembangunan infrastruktur tahan gempa

"Artinya, informasi mengenai potensi gempa besar perlu dipahami secara utuh dan proporsional sebagai bagian dari upaya kesiapsiagaan, bukan sebagai indikasi kepastian waktu kejadian," jelasnya.

Baca Juga: Puluhan Warga DIY Terdampak Gempa Pacitan

Penguatan sistem peringatan dini dan mitigasi bencana memerlukan sinergi antara kajian ilmiah, dukungan teknologi, serta kesiapan masyarakat dalam merespon informasi kebencanaan.

Peningkatan literasi kebencanaan menjadi kunci agar masyarakat dapat bertindak tepat saat terjadi gempa bumi dan potensi tsunami.

Pendekatan berbasis riset dalam menghitung potensi gempa bumi, termasuk estimasi magnitudo maksimum dan kajian periode ulang, merupakan fondasi dalam pembangunan sistem peringatan dini dan mitigasi yang optimal.

Pemahaman potensi, penguatan sistem, dan kesiapan masyarakat harus dibangun secara berkelanjutan guna mewujudkan masyarakat yang tangguh dan siap selamat dari ancaman gempa bumi dan tsunami.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.