Parkir Abu Bakar Ali Dijadikan Ruang Terbuka Hijau, Sri Sultan Mau Jangan Banyak Bangunan

Akurat.co,Jogja-Bekas parkir Abu Bakar Ali (ABA) akan dijadikan Ruang Terbuka Hijau atau RTH.
Pembangunan RTH merupakan bagian rencana penataan kawasan Sumbu Filosofi.
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menginginkan agar nantinya tidak banyak bangunan di RTH tersebut.
Baca Juga: Kendaraan Besar Tak Boleh Melewati Sumbu Filosofi, Pemkot Jogja Siapkan Lahan Parkir Bus
“Ngarsa Dalem menginginkan tidak perlu banyak bangunan. Dan memang nanti tidak ada bangunan, hanya ada toilet saja,” ujar Sekda DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti dikutip dari laman resmi Pemda DIY.
Desain hutan kota
Made menjelaskan, desain RTH ABA yang ada dan telah diajukan kepada Sri Sultan adalah hutan kota.
Pada desain awal ini, keberadaan toilet di tengah RTH karena selama ini sisi utara dari kawasan Malioboro ini juga belum terdapat toilet umum.
Namun, dari hasil rapat yang diselenggarakan hari ini, posisi toilet akan digeser ke sisi barat sedikit dan ukuran bangunannya diperkecil.
Menurut Made, Sri Sultan pun lebih menginginkan jika tanaman yang dipilih nantinya tidak hanya tanaman perdu saja.
Sri Sultan menginginkan ada semacam pergola di RTH ABA ini, sehingga bisa diberi tanaman hias rindang, sehingga tampilannya lebih berwarna.
“Beliau menginginkan tanaman yang indah, yang bisa nyaman dipandang mata. Tapi nanti bisa kita kombinasikan, perdunya nanti tidak terlalu banyak.
Mungkin akan kita kombinasikan dengan jenis perdu yang ada bunga-bunganya,” imbuhnya.
Selain itu, Made pun mengungkapkan, rencana penataan kawasan Panggung Krapyak, yang juga menjadi bagian dari Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta.
Baca Juga: Dishub Kota Jogja Jamin Layanan Parkir Tak Meresahkan, Tak Ada Tarif Nuthuk
Namun sebelum melakukan rencana penataan, identifikasi pertanahan akan lebih dulu dilakukan.
Sebagai informasi, penataan Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta berfokus pada pelestarian warisan budaya dunia UNESCO melalui pengelolaan tata ruang yang harmonis, pembatasan kendaraan, serta optimalisasi fasilitas pejalan kaki.
Garis imajiner yang membentang dari Panggung Krapyak, Keraton, hingga Tugu Pal Putih ini ditata untuk menjaga keselarasan antara manusia, alam, dan nilai spiritual.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Warga Sleman Jangan Panik! Sirine EWS Merapi Bakal Berbunyi Serentak 17 Agustus, Ini Alasannya
- 2Ega Rizky: Belum Kepikiran Pensiun, Masih Mau Berkarier Sakmampune
- 3Tangan Kroniyah Gemetar Saat Terima Kunci Rumah, Ini Sebabnya...
- 4Lansia Hilang Saat Cari Rumput di Hutan Pathuk Tritis Sleman
- 5LKBN Antara Gelar Pameran Fotografi 'Merdeka' di Titik Nol Kilometer Yogya
- 6Dari Posko NTT, Dirut PLN Pastikan Pasokan Listrik Aman selama Pelaksanaan HUT ke-81
- 7Belanja Rp20.000 di Pasar Kota Jogja Bakal Dapat Smartphone
- 8Dampak El Nino, Status Siaga Darurat Kekeringan Sleman Berpotensi Diperpanjang
- 9Donatsur, Donat Lembut Jogja yang Selalu Antre Pembeli
- 10Melihat Tradisi Sedekah Jageran yang Sudah Berlangsung 16 Tahun Lamanya






