Dosen Ekonomi Syariah UMY Sebut Paylater Bertentangan dengan Nilai Islam

Akurat.co,Jogja-Dosen Ekonomi Syariah, Fakultas Studi Islam dan Peradaban (FSIP) UMY, Syah Amelia Manggala Putri menyebut tren paylater tak sesuai dengan nilai islam.
Dari perspektif ekonomi syariah, perilaku konsumtif akibat tren paylater sangat bertentangan dengan prinsip pengelolaan harta dalam Islam.
"Islam mengajarkan pola konsumsi yang proporsional dan berorientasi pada kebutuhan, bukan sekadar memenuhi keinginan," ungkapnya dikutip dari laman resmi UMY, Rabu (27/5/2026).
Amelia menambahkan bahwa dalam Islam, perilaku berlebihan dalam konsumsi dikenal dengan istilah israf dan tabdzir.
Baca Juga: Wakil Rektor UMY Sebut Korupsi Material Penyebab Infrastruktur RI Cepat Rusak
Kedua hal ini dilarang karena menimbulkan pemborosan dan merusak keseimbangan keuangan individu.
“Islam mendorong konsumsi yang terukur dan proporsional. Dalam perspektif maqashid al-syari’ah, pengelolaan harta harus dilakukan secara bertanggung jawab agar tidak menimbulkan mudarat bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar,” tuturnya
Fitur “beli sekarang, bayar nanti” membuat masyarakat semakin mudah berbelanja tanpa mempertimbangkan kondisi finansial jangka panjang.
“Kemudahan akses tanpa agunan dan persetujuan instan menciptakan ilusi bahwa membeli sesuatu itu tidak mahal," ungkap Amelia.
Padahal, lanjutnya, yang terjadi adalah penundaan beban keuangan, bukan penghapusannya.
Golongan mahasiswa rentan terimbas paylater
Menurut Amelia, sebagai kelompok yang paling dekat dengan teknologi finansial, mahasiswa menjadi sangat rentan dengan tren ini.
Kemudahan transaksi digital, promo, hingga gaya hidup di media sosial dinilai semakin memperbesar dorongan konsumsi yang tidak terkontrol.
Bagi mahasiswa, layanan ini membawa banyak dampak negatif.
Di antaranya adalah pengeluaran impulsif, beban utang yang kian bertambah, stres keuangan, ketegangan sosial, hingga risiko keamanan data pribadi.
“Karena itu, generasi muda perlu memahami bahwa kemudahan akses finansial tetap harus diimbangi dengan kemampuan mengelola kebutuhan,” tambah Amelia.
Baca Juga: Dosen UMY Ungkap Cara Gampang Kenali Kosmetik Berbahaya, Jangan Tergiur Harga Murah
Baca Juga: Dosen UMY Ungkap Cara Gampang Kenali Kosmetik Berbahaya, Jangan Tergiur Harga Murah
Untuk itu Amelia mengingatkan masyarakat lebih teliti sebelum menggunakan layanan paylater.
Pengguna wajib memahami struktur biaya, kemampuan bayar, hingga legalitas platform yang digunakan.
Langkah ini penting agar tidak menghadapi persoalan hukum dan finansial di kemudian hari.
“Dalam perspektif Islam, kemakmuran bukan hanya soal memiliki banyak harta. Namun, bagaimana harta dikelola secara bertanggung jawab untuk kemaslahatan diri, keluarga, dan umat,” jelas Amelia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Warga Sleman Jangan Panik! Sirine EWS Merapi Bakal Berbunyi Serentak 17 Agustus, Ini Alasannya
- 2Tangan Kroniyah Gemetar Saat Terima Kunci Rumah, Ini Sebabnya...
- 3Dari Posko NTT, Dirut PLN Pastikan Pasokan Listrik Aman selama Pelaksanaan HUT ke-81
- 4Lansia Hilang Saat Cari Rumput di Hutan Pathuk Tritis Sleman
- 5Donatsur, Donat Lembut Jogja yang Selalu Antre Pembeli
- 6Dampak El Nino, Status Siaga Darurat Kekeringan Sleman Berpotensi Diperpanjang
- 7FTI UAJY Perkuat Kemampuan Komunikasi antara Dosen dengan Mahasiswa
- 8Penampilan Polisi Cilik di Upacara Penurunan Bendera Pemkab Kulon Progo Pukau Masyarakat
- 9Donatsur, Donat Lembut Jogja yang Selalu Antre Pembeli
- 10Melihat Tradisi Sedekah Jageran yang Sudah Berlangsung 16 Tahun Lamanya







