Tak Naikkan Cukai Rokok, Akademisi UGM Sebut Pemerintah Jalankan Kebijakan Jangka Pendek untuk Stabilitas Sosial

Akurat.co,Jogja-Akademisi UGM menilai keputusan pemerintah tidak menaikkan Cukai Hasil Tembakau (CHT) pada 2026 sebagai kebijakan jangka pendek demi stabilitas sosial.
“Kebijakan ini diambil untuk meminimalkan dampak sosial yang lebih luas,” kata Dr. Hempri Suyatna dikutip dari laman resmi UGM.
Hempri menilai langkah pemerintah sebagai kebijakan jangka pendek yang berorientasi pada stabilitas sosial.
Ia menjelaskan, kebijakan itu dapat dipahami di tengah kondisi industri dalam negeri yang tengah lesu.
"Kita bisa amati, saat ini cukup banyak industri padat karya yang gulung tikar sehingga berdampak pada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Oleh karena itu, dalam jangka pendek, kebijakan tersebut mungkin dimaksudkan untuk meminimalkan dampak sosial yang lebih luas, khususnya pengangguran,” paparnya.
Meski demikian, Hempri menegaskan bahwa dimensi kesehatan publik tidak boleh terabaikan. Edukasi dan kampanye bahaya merokok, menurutnya, perlu terus digalakkan agar tujuan jangka panjang pengendalian konsumsi tetap tercapai.
Salah satu persoalan yang turut membayangi adalah argumen bahwa kenaikan cukai justru mendorong peredaran rokok ilegal yang merugikan negara hingga triliunan rupiah.
Hempri berpandangan bahwa faktor penyebabnya tidak tunggal. “Saya kira merebaknya rokok ilegal tidak semata-mata disebabkan oleh kenaikan cukai legal,” ujarnya.
Ia menilai, lemahnya pengawasan dan koordinasi antar lembaga turut berperan besar.
“Bisa saja karena penegakan hukum yang kurang komprehensif. Ada banyak hal yang perlu diantisipasi, misalnya bagaimana pengawasannya, bagaimana koordinasi antara Bea dan Cukai, penegak hukum, lembaga peradilan, maupun lembaga kesehatan,” terangnya.
Baca Juga: Di UGM, Presdir Unilever Indonesia Ungkap Rahasia Sukses Berkarier di Dunia Kerja Saat Ini
Lebih lanjut, Hempri menyinggung isu kesejahteraan petani dan buruh rokok yang kerap dijadikan alasan penolakan kenaikan cukai.
Menurutnya, secara riil kesejahteraan petani tembakau tidak sebanding dengan kontribusi besar mereka terhadap penerimaan negara.
Ia bahkan mengutip hasil penelitian mahasiswanya pada 2023 yang menunjukkan kuatnya nilai budaya dalam pandangan masyarakat terhadap tembakau sebagai ‘emas hijau’.
“Meski dalam kondisi ekonomi yang tidak menguntungkan, para petani tetap setia menanam tembakau karena dianggap sebagai berkah,” tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Prediksi Pertandingan PSIM vs PSM Makassar, Tuan Rumah Terbebani Wajib Menang
- 2K-24 Healthy Run 2026 di Jogja, Boleh Bawa Stroller?
- 3Gaji ASN Lewat KDMP, DPRD DIY Khawatirkan Keamanan Data
- 412 Atlet SOIna DIY Siap Berlaga di PESONAS II 2026 Kupang
- 5Kolaborasi 5 Universitas APTIK di UAJY: Cetak Mahasiswa Ilmu Komunikasi Melek Teknologi AI
- 6Jelang Hari Santri 2026, Kemenag Sleman dan FKUB Reresik Pondok Pesantren
- 7Perjuangan Muhammad Yunus Kuliah di UNY, jadi Ojol Makanan saat Waktu Luang
- 8Ada Agenda Keagamaan, Laga PSIM vs PSM Digelar tanpa Penonton
- 9Kalah 4 Kali Beruntun, Pelatih PSIM: Wajar Suporter Kecewa dan Marah
- 10Suporter PSIM Minta Van Gastel Dipecat Dalam Waktu 1x24 Jam





