Jogja

Prediksi Ekonom UGM soal Ekonomi Indonesia Hadapi Lonjakan Minyak Dunia akibat Konflik Iran-Israel

Haris Ma'ani | 28 Maret 2026, 11:02 WIB
Prediksi Ekonom UGM soal Ekonomi Indonesia Hadapi Lonjakan Minyak Dunia akibat Konflik Iran-Israel
Ilustrasi minyak dunia., (foto:freepik/tawatchai07)

Akurat.co,Jogja-Ekonom UGM, Muhammad Edhie Purnawan menyampaikan pandangannya terkait ekonomi Indonesia menghadapi lonjakan minyak dunia imbas konflik Iran-Israel.

Saat ini ekonomi dunia berada di tengah ketidakpastian seiring harga minyak mentah dunia yang menembus USD 108 per barel.

Baca Juga: Rupiah Melemah, Dosen UGM Ingatkan Harga Pangan Bisa Naik

Keadaan ini menjadi ancaman nyata bagi inflasi di negara-negara yang masih mengimpor minyak.

Anomali ekonomi Indonesia

Muhammad Edhie menyampaikan, di tengah situasi tersebut Indonesia justru menampilkan anomali yang impresif.

Tampa dari Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur yang stabil di level 53,8 serta pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 yang menyentuh 5,39% menegaskan kokohnya fundamental domestik Indonesia.

Ekonom UGM, Muhammad Edhie Purnawan. (foto: dok.ugm)

"Cadangan devisa sebesar USD 151,9 miliar menjadi benteng pertahanan terakhir yang memadai untuk meredam turbulensi pasar,” ungkapnya.

Edhie yang juga Ketua Bidang International Affairs Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, menjelaskan, penutupan Selat Hormuz berisiko memutus pasokan energi Asia Pasifik.

Menanggapi hal ini, pemerintah Indonesia menjadikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai penahan benturan melalui subsidi energi untuk menjaga daya beli masyarakat.

Baca Juga: Guru Besar UGM Ungkap Penyebab Utama Banyaknya OTT Kepala Daerah

Menurut Edhie, kebijakan Bank Indonesia menginjeksikan likuiditas melalui kebijakan Intensif Likuiditas Makroprudensial (KLM) sebesar Rp 427,5 triliun dan menurunkan bunga kredit ke level 8,80% juga menjadikan sektor UMKM serta dunia usaha tetap bisa bergerak meski biaya modal global sedang melonjak.

Sebagai middle power yang independen dengan surplus perdagangan konsisten selama 69 bulan, Indonesia memiliki kredibilitas untuk menyuarakan bahwa perang pada akhirnya harus berakhir melalui negosiasi dan pemahaman mendalam, bukan dengan retorika yang saling memojokkan sebagai musuh atau pembohong.

“Perdamaian tercapai saat setiap pihak memahami kepentingan masing-masing sekaligus menemukan titik temu kemanfaatan bersama.

Maka, urgensi saat ini adalah menghentikan seruan peperangan dan memulai meja diskusi,” katanya, dikutip dari laman resmi UGM.

Edhie menambahkan bahwa semua perhitungan geopolitik dan ekonomi harus berjuang pada satu keyakinan yaitu Indonesia tidak boleh ragu untuk menentukan sikap dimasa sulit saat ini.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.