Jogja

BI DIY Ungkap Cabai Rawit hingga Telur Faktor Penyumbang Inflasi 2026

Tegar Wahyudi | 24 Juli 2026, 09:10 WIB
BI DIY Ungkap Cabai Rawit hingga Telur Faktor Penyumbang Inflasi 2026
Sejumlah bahan pangan seperti cabai rawit dan telur disebut bisa menjadi faktor penyumbang inflasi 2026 di DIY. (foto: magnific/kstudio)

Akurat.co,Jogja-Bank Indonesia (BI) DIY mewaspadai kenaikan cabai rawit hingga telur sebagai antisipasi inflasi 2026.

Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Sri Darmadi Sudibyo, pada agenda High Level Meeting (HLM) Monitoring dan Evaluasi Inflasi DIY, Kamis (23/7/2026).

Agenda dihadiri Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X dan pejabat DIY lainnya.

Menurut Sri Darmadi, kenaikan kebutuhan pangan tak lepas dari sejumlah situasi yang ada saat ini.

Baca Juga: Kenaikan BBM Pemicu Inflasi Kota Jogja

Meliputi ketidakpastian geopolitik global, potensi El Nino yang dapat memicu kekeringan dan menekan produksi pangan, dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi, serta peningkatan permintaan konsumsi seiring tingginya kunjungan wisatawan ke DIY.

Ia menyebut, komoditas yang menjadi perhatian utama meliputi cabai rawit, bawang merah, cabai merah, beras dan telur ayam.

"Berdasarkan data yang disampaikan, inflasi DIY pada Juni 2026 tercatat sebesar 2,91 persen, sedangkan inflasi Kota Yogyakarta mencapai 3,18 persen,” ujarnya.

Pemda DIY bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID)berupaya menghadapi potensi tekanan inflasi tersebut.

Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam arahannya menyampaikan tujuh langkah prioritas menghadapi tantangan yang ada, terutama di semester II 2026.

Salah satunya adalah, memperkuat distribusi komoditas pangan strategis seperti beras, telur ayam ras, minyak goreng, cabai merah dan cabai rawit dengan prinsip tepat lokasi, tepat waktu dan tepat sasaran.

Kemudian, memperkuat kerja sama antar daerah melalui pemetaan wilayah surplus dan defisit komoditas sehingga daerah dengan kelebihan produksi dapat menopang wilayah yang mengalami kekurangan pasokan.

Lalu memetakan kebutuhan konsumsi masyarakat dan wisatawan, terutama pada momentum idul fitri, libur sekolah, natal, dan tahun baru.

Baca Juga: BPS Kota Jogja Sebut Tahun Ajaran Baru akan Picu Inflasi

Dan, memperkuat cadangan pangan pemerintah daerah agar dapat disalurkan secara tepat ketika terjadi gangguan pasokan maupun lonjakan harga.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.