Ekonomi Jogja Ditopang UMKM, 1 Juta Pekerja Bergantung di Sektor Ini

Akurat.co,Jogja- Perekonomian Jogja ditopang oleh usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM).
Hal tersebut disampaikan Wakil Kepala Badan Pusat Statistik *BPS) Republik Indonesia, Sonny Harry Budiutomo Harmadi.
Menurutnya, usaha mikro dan kecil masih mendominasi struktur ekonomi DIY.
Dari total 533 ribu lebih unit usaha pada tahun 2016, sekitar 524 ribu di antaranya merupakan usaha mikro dan kecil.
Baca Juga: Wali Kota Jogja Ajak Perbankan Daerah Kembangkan Marketplace bantu UMKM
Sementara usaha menengah dan besar hanya sekitar 11 ribu unit.
“Dari 1,3 juta pekerja yang terserap pada tahun 2016, lebih dari satu juta pekerja berada di sektor usaha mikro dan kecil,” katanya dikutip dari laman Pemda DIY, Jumat (15/5/2026).
Sensus ekonomi 2026 petakan ekonomi Jogja
Saat ini pihaknya akan kembali mengadakan Sensus Ekonomi 2026 untuk mengetahui kondisi riil ekonomi Jogjakarta saat ini.
Pihaknya mengungkapkan, dalam Sensus Ekonomi 2026, BPS juga akan mendata aktivitas ekonomi di bidang pertanian.
Sonny turut mengapresiasi capaian pertumbuhan ekonomi DIY yang pada triwulan I 2026 mencapai 5,84 persen atau lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu, DIY juga dinilai sebagai salah satu provinsi paling efisien di Pulau Jawa dalam proses produksi barang dan jasa.
Ia mencontohkan, biaya produksi di DIY relatif lebih rendah sehingga nilai tambah yang dihasilkan lebih besar bagi pekerja maupun pelaku usaha.
"Kalau di Jogja walaupun harganya murah, biaya produksinya lebih rendah dibanding daerah lain. Artinya proses produksinya semakin efisien,” jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwi Panti Indrayanti menilai Sensus Ekonomi 2026 memiliki arti strategis karena bukan sekadar agenda statistik nasional, tetapi upaya bersama memahami denyut ekonomi masyarakat secara menyeluruh.
Baca Juga: Ekonomi Melambat, Bantul Dukung Pemasaran Produk UMKM melalui Digital
"Inklusivitas ekonomi tidak cukup dimaknai sebagai pertumbuhan angka-angka makro. Ia harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, dalam usaha mikro, ekonomi kreatif, koperasi, pasar tradisional hingga usaha digital generasi muda,” ujarnya.
Ia mengatakan, melalui Sensus Ekonomi 2026 pemerintah berharap memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai pelaku ekonomi di DIY, mulai dari lokasi usaha, sektor yang digeluti, skala usaha hingga tantangan yang dihadapi.
Made mengatakan, setiap kabupaten dan kota di DIY memiliki kekuatan ekonomi yang berbeda-beda, mulai dari jasa pendidikan dan pariwisata, ekonomi budaya, UMKM, industri kreatif, kawasan bandara, hingga desa wisata.
"Saya mengapresiasi kesiapan BPS pusat, provinsi dan kabupaten/kota dalam menyambut Sensus Ekonomi 2026 serta dukungan seluruh pemangku kepentingan,” ungkapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Warga Sleman Jangan Panik! Sirine EWS Merapi Bakal Berbunyi Serentak 17 Agustus, Ini Alasannya
- 2Ega Rizky: Belum Kepikiran Pensiun, Masih Mau Berkarier Sakmampune
- 3LKBN Antara Gelar Pameran Fotografi 'Merdeka' di Titik Nol Kilometer Yogya
- 4Dari Posko NTT, Dirut PLN Pastikan Pasokan Listrik Aman selama Pelaksanaan HUT ke-81
- 5Lansia Hilang Saat Cari Rumput di Hutan Pathuk Tritis Sleman
- 6Tangan Kroniyah Gemetar Saat Terima Kunci Rumah, Ini Sebabnya...
- 7Belanja Rp20.000 di Pasar Kota Jogja Bakal Dapat Smartphone
- 8Dampak El Nino, Status Siaga Darurat Kekeringan Sleman Berpotensi Diperpanjang
- 9Melihat Tradisi Sedekah Jageran yang Sudah Berlangsung 16 Tahun Lamanya
- 10Diikuti 1.000 Peserta, Pengibaran Bendera Merah Putih di Laut Selatan Berlangsung Aman









