Jogja

Geliat Desa Wisata Ikan Hias Gilangharjo, Bantul, Produknya Sudah Ekspor ke Mancanegara

Yudi Permana | 22 Juli 2025, 12:05 WIB
Geliat Desa Wisata Ikan Hias Gilangharjo, Bantul, Produknya Sudah Ekspor ke Mancanegara

Akurat.co, Jogja-Potensi lokal jika dikembangkan dan berada di orang tepat akan bisa menjadi luar biasa.

Sebagaimana yang terjadi di Desa Gilingharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Desa ini berkembang menjadi desa wisata budidaya ikan hias. Bukan hanya memenuhi pasar lokal, produk ikan hias desa tersebut bahkan sudah ekspor sampai ke mancanegara.

Salah satu pionirnya adalah Muhammad Gema Ramadhan (28), alumni Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) angkatan 2015.

Baca Juga: Magisnya Prambanan Padhang Bulan Di Ramayana Ballet

Melalui kelompok pembudidaya ikan Mina Muda Sejahtera yang diketuainya, Gema tak hanya menghidupkan kembali potensi lokal, tetapi juga menjadikannya motor penggerak ekonomi dan wisata berbasis ikan hias.

Berawal dari keprihatinan sektor pertanian

Berawal dari keprihatinan terhadap minimnya peran pemuda di sektor perikanan, Gema yang saat itu menjadi Ketua Pemuda Desa Gilangharjo mulai mendorong perubahan.

Padahal, desanya memiliki potensi besar di bidang budidaya ikan hias.

“Dari kecil saya pelihara ikan, tapi baru paham manfaat ekonominya setelah kuliah,” ujarnya dikutip dari umy.ac.id

Sejak itu, Gema bertekad mengajak anak muda di desanya untuk ikut mengembangkan potensi tersebut.

“Saya melihat aktivitas pemuda hanya monoton, tidak ada yang mengarah pada keberlanjutan ekonomi,” tambahnya.

Langkah awalnya dimulai saat ia bersama BEM FISIPOL UMY mengajukan proposal Program Hibah Bina Desa kepada Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) pada tahun 2016, dan berhasil mendapatkan pendanaan pada 2017.

Dari situlah lahir kelompok pembudidaya ikan yang anggotanya didominasi anak muda.

Baca Juga: 5 Potret Pemain PSIM Jalani Tradisi Rutin Ziarah ke Makam Raja Mataram

Tidak berhenti pada budidaya, Gema memikirkan strategi jangka panjang, yaitu mentransformasi budidaya ikan menjadi destinasi wisata.

Melalui Kelompok Mina Muda Sejahtera, ia pun belajar mengelola festival ikan di berbagai daerah dan dipercaya menyelenggarakan event perikanan di Kabupaten Bantul.

Hal ini menjadi cikal bakal terbentuknya Desa Wisata Kajii, yang fokus pada wisata ikan hias.

“Nama Kajii saya ambil dari harapan agar Kadisoro nyawiji, bersatu. Dulu banyak konflik antarwarga.

Saya ingin lewat desa wisata ini, warga bisa bersatu membangun desa. Alhamdulillah tahun 2021, saya mendapatkan SK Desa Wisata dan saya juga menjadi ketua pengelola desa wisata,” ungkapnya.

Di bawah kepemimpinannya, Desa Wisata Kajii tidak hanya mengembangkan wisata, tetapi juga mengorkestrasi pertumbuhan ekonomi berbasis ikan hias.

Dengan empat pokdakan (kelompok pembudidaya ikan yang aktif), Gema menargetkan pertumbuhan minimal lima pokdakan baru setiap tahunnya.

Ia juga sukses mengembangkan varietas baru ikan guppy bernama Red Cobra, yang kemudian dikenal luas di komunitas ikan hias nasional bahkan internasional.

Keberhasilan ini menjadikan Gema kerap diundang sebagai narasumber dan juri nasional untuk kontes ikan guppy.

Produk ikan hias dari kelompoknya kini menjangkau pasar ekspor ke Asia, Eropa, hingga Timur Tengah, melalui kerja sama dengan perusahaan ternama, seperti PT.Qianhu Indonesia, CV. Leopard Aquatic Indonesia, dan CV.Tirta Mas Agung Abadi.

Dengan detail pasarannya: 50 persen ke Asia, 30 persen ke Eropa, dan 20 persen ke Timur Tengah.

“Ini menunjukkan bahwa ikan hias itu menghasilkan dan dapat memberikan dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat,” tandasnya.

Baca Juga: 10 PTN Ini Memiliki Jumlah Mahasiswa Terbanyak, Sampai 1 Juta Loh!

Kelompok Mina Muda Sejahtera yang ia pimpin saat ini memiliki 25 anggota tetap dari masyarakat sekitar.

Selain itu, ia juga mendirikan komunitas Bantul Fancy Guppy yang ia rintis dan telah menghimpun lebih dari 60 orang.

“Logo komunitas kami bahkan diambil dari ikan Red Cobra hasil silangan saya sendiri. Ini bentuk klaim bahwa ikan ini lahir dari Bantul,” ujar Gema bangga.

Sebagai pelaku usaha sekaligus pengelola desa wisata, Gema juga aktif membuka ruang pembelajaran.

Kelompoknya rutin menerima mahasiswa magang dari berbagai kampus, termasuk UMY, serta siswa dari SMK untuk pelatihan budidaya.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.