Kue Keranjang Kampung Tukangan, Warisan Kuliner yang Terus Dijaga

Akurat.co,Jogja-Jogja selalu memberikan warna cerita. Termasuk, kisah dari Kampung Tukangan, Tegal Panggung, Danurejan.
Di sini, warisan kuliner kue keranjang dijaga setiap generasi agar selalu lestari.
Menjelang perayaan tahun baru Imlek 2026, yang akan jatuh pada 17 Februari, kesibukan mulai terlihat di Kampung Tukangan.
Seperti yang sudah-sudah, aroma manis kue keranjang kembali mengepul dari dapur sederhana di sudut kampung tersebut.
Baca Juga: Warung Sekul Mbak Gebyar Sajikan Menu Otentik dan Langka
Sianywati, generasi kedua dari keluarga pembuat kue keranjang, menuturkan bahwa usaha ini telah dirintis sejak sebelum Indonesia merdeka.
Ia melanjutkan tradisi yang diwariskan langsung dari sang nenek.
“Ini sudah dari zaman nenek saya, jauh sebelum Indonesia merdeka.
Sekarang saya yang meneruskan. Jadi sudah generasi kedua,” tutur Sianywati sebagaimana diceritakan di laman resmi Pemda DIY.
Menurutnya, kue keranjang bukan sekadar makanan, tetapi memiliki filosofi yang sangat kuat.
Bahan dasarnya yang terbuat dari ketan melambangkan kelengketan, yang dimaknai sebagai perekat hubungan antarmanusia, terutama dalam keluarga.
“Ketan itu kan lengket, jadi maknanya supaya keluarga tetap lengket, rukun, saling merekat satu sama lain. Terus rasanya manis, harapannya hidup orang-orang yang makan kue ini juga manis.
Kariernya manis, rezekinya manis, hubungannya juga manis,” jelasnya.
Produksi 200 kg kue keranjang
Dalam sehari, Sianywati mampu memproduksi sekitar 200 kilogram kue keranjang.
Ia membuat kue dalam lima variasi ukuran, dengan berat utama satu kilogram dan setengah kilogram.
Untuk kemasan, tersedia paket isi lima buah, empat buah, dan tiga buah.
Soal pemasaran, sebagian besar kue keranjang produksinya sudah dipesan jauh-jauh hari oleh pelanggan setia. Harganya pun relatif terjangkau, yakni Rp55 ribu per buah.
“Biasanya sudah ada yang pesan duluan. Jadi tinggal produksi sesuai pesanan,” katanya.
Meski permintaan terus meningkat setiap tahunnya, Sianywati memilih untuk tidak mengubah sedikit pun proses pembuatan kue keranjangnya.
Baca Juga: Bakul Sekul Jogja, Mangut Lele dan Nila Asapnya Bikin Diet Dijamin Gagal
Baginya, justru di situlah letak keistimewaannya.
“Prosesnya dari dulu sama, tidak ada yang berubah. Inilah kekhasan kue keranjang saya. Kalau diubah, rasanya bukan lagi warisan nenek,” tuturnya lirih.
Tak hanya saat menjelang Imlek, dapur sederhana milik Sianywati juga tetap mengepul di hari-hari biasa.
Jika musim kue keranjang telah usai, ia tak pernah benar-benar berhenti memasak.
Di hari-hari tanpa perayaan, Sianywati mengisi waktunya dengan membuat bakcang, makanan khas Tionghoa berbahan beras yang dibungkus daun bambu dan berisi daging serta kacang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





