Kasus Leptospirosis Meningkat di Kota Jogja, Dinkes Perkuat Deteksi Dini dan Skrining

Akurat.co-Jogja-Kasus leptospirosis menunjukkan peningkatan di Kota Jogja. Jika pada 2024 terdapat 10 kasus, pada 2025 kemarin meningkat menjadi 34 kasus.
Peningkatan kasus bukan semata lonjakan penularan, tapi sistem deteksi dan skrining yang lebih diperkuat di fasilitas kesehatan
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular (P2M) dan Imunisasi Dinkes Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu, menjelaskan peningkatan dipengaruhi kewaspadaan puskesmas yang lebih tinggi.
Baca Juga: Status Kepesertaan PBI Jadi Non Aktif? Begini Tanggapan BPJS Kesehatan
"Sekarang, setiap pasien demam dengan faktor risiko langsung dipertimbangkan kemungkinan leptospirosis,” ujarnya dilansir dari laman resmi pemkot Jogja, Jumat (6/2/2025).
Waspadai masyarakat berisiko tinggi
Epidemiolog Kesehatan Ahli Muda Dinkes Kota Yogyakarta, Anandi Iedha Retnani, menambahkan leptospirosis merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Penyakit ini bersifat zoonosis, yakni ditularkan dari hewan ke manusia.
“Penularannya paling sering melalui tikus, sehingga masyarakat kerap menyebutnya sebagai flu tikus. Namun, bakteri ini juga bisa berasal dari hewan lain seperti babi, kuda, dan kambing,” jelasnya.
Bakteri Leptospira masuk ke tubuh manusia melalui kulit yang luka atau terbuka, serta melalui selaput lendir seperti hidung, mulut, dan mata. Penularan biasanya terjadi saat seseorang kontak dengan air, tanah, atau lingkungan yang tercemar urine hewan yang terinfeksi.
Menurut Anandi, tidak semua orang memiliki risiko yang sama untuk terjangkit. Risiko sangat bergantung pada tingkat paparan, yang kerap berkaitan dengan jenis pekerjaan maupun aktivitas.
Kelompok dengan risiko tinggi antara lain pekerja sawah, perkebunan, peternakan, rumah potong hewan (RPH), petugas kebersihan.
Selain itu, masyarakat yang sering beraktivitas di lingkungan berisiko seperti genangan air hujan, banjir, area peternakan, lingkungan dengan populasi tikus tinggi, dan sanitasi buruk juga rentan terpapar.
Anandi menjelaskan gejala awal leptospirosis sering dianggap sepele sehingga banyak pasien datang terlambat.
Baca Juga: 2025, Dinkes Sleman Catat ada 418 Kasus DBD
“Gejalanya seperti demam, nyeri otot, dan lemas. Sering dikira hanya kelelahan atau masuk angin. Padahal jika tidak segera ditangani, bisa berkembang menjadi gagal ginjal dan pasien perlu cuci darah,” katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Yayasan Slamet Riyadi Yogyakarta Tegaskan Pemberhentian Seorang Dosen Telah Melalui Prosedur
- 2Mahasiswa FTI UAJY Tuangkan Kisah dari Mata Kuliah Masyarakat Digital dalam Bentuk Buku
- 3Mengenal GIK UGM, Lokasi Diskusi Wamentan Sudaryono dan Budiman Sudjatmiko yang Berujung Ricuh
- 45 Fakta Menarik Mukmin Juara SUCI 12, Alumni UMY yang Sempat jadi Marbot
- 5BPBD Sleman dan Tim Ahli Pastikan, Teror Kebakaran di Kasuran Seyegan Bukan Karena Gas Alam
- 6Soal Insiden Diskusi di UGM, Sudaryono: Pantang Kabur, Kami Datang untuk Berdialog
- 7SPMB SMP Kota Jogja Sediakan 3.584 Kursi
- 8Unit Layanan Disabilitas UAJY Raih Pendanaan dari Kemdiktisaintek
- 95 Fakta Menarik Mukmin Juara SUCI 12, Alumni UMY yang Sempat jadi Marbot
- 10SPMB SMP Kota Jogja Sediakan 3.584 Kursi



