Nyadran di Kampung Bener, Menjaga Warisan Leluhur yang Sempat Menghilang 25 Tahun

Akurat.co,Jogja- Menjaga warisan leluhur dan tradisi memang tak mudah. Seperti halnya tradisi nyadran di Kampung Bener, Kemantren Tegalrejo, Kota Jogja.
Tradisi ini sempat menghilang selama 25 tahun lamanya. Ketiadaan tradisi yang sudah dimulai sejak 1977 disebabkan pelakunya yang sudah lanjut usia atau sepuh.
Menyambut bulan Ramadhan tahun ini, tradisi kembali dibangkitkan. Minggu (8/2/2026) kemarin, kegiatan dihidupkan dan mendapatkan sambutan luar biasa.
Baca Juga: Tanpa Alas Kaki, Abdi Dalem Keraron Yogyakarta Laksanakan Tradisi Kuthomoro di Makam Imogiri
“Nyadran ini kita mulai lagi, meskipun sempat vakum pada 2019 hingga 2022 karena pandemi Covid-19.
Tahun 2023 kita lanjutkan kembali, dan tahun 2026 ini menjadi sangat istimewa karena kita lengkapi dengan pawai budaya. Respons masyarakat sangat positif,” ujar Ketua Panitia Nyadran Kampung Bener, Muryono.
Tahun ini, Nyadran Kampung Bener mengusung tema Eling lan Waspodo, Donga Bareng, Paseduluran Langgeng.
Tema tersebut menegaskan nilai kebersamaan dan kerukunan lintas umat beragama. Doa bersama tidak hanya diikuti warga Muslim, tetapi juga dihadiri warga Katolik dan Kristen.
“Alhamdulillah, semua bisa rawuh dan berbaur. Ini menunjukkan kebersamaan dan kerukunan antarumat beragama di Kampung Bener,” katanya.
Salah satu warga, Sri Susilowati, mengaku bersyukur dengan konsep Nyadran tahun ini yang berbeda dari sebelumnya.
“Nyadran tahun ini sangat berkesan karena berkolaborasi dengan budaya. Tidak monoton, ada kesenian dan pawai. Harapan kami, tahun depan bisa lebih baik lagi,” ujarnya.
Ia juga berharap potensi kesenian lokal seperti hadrah, jatilan, dan sanggar tari yang ada di wilayahnya dapat terus dilibatkan.
Baca Juga: Menyingkap Tradisi Mitoni Adat Jawa, Dijadikan Program Pemkot Jogja Mencegah StuntingBaca Juga: Menyingkap Tradisi Mitoni Adat Jawa, Dijadikan Program Pemkot Jogja Mencegah Stunting
Menurutnya, keterlibatan Bregodo Yudhotomo sebagai cucuk lampah pawai menjadi awal yang baik bagi pengembangan seni dan budaya lokal.
Sebelum doa bersama dimulai, rangkaian Nyadran diawali dengan kirab budaya yang melibatkan Punakawan, Bregodo Rakyat, gunungan sayuran, gunungan kolak, ketan dan apem, ingkung, grup hadrah, serta masyarakat Kampung Bener.
Kirab tersebut menjadi daya tarik tersendiri dan menambah kekhidmatan sekaligus kemeriahan tradisi tahunan ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Warga Sleman Jangan Panik! Sirine EWS Merapi Bakal Berbunyi Serentak 17 Agustus, Ini Alasannya
- 2Tangan Kroniyah Gemetar Saat Terima Kunci Rumah, Ini Sebabnya...
- 3Dari Posko NTT, Dirut PLN Pastikan Pasokan Listrik Aman selama Pelaksanaan HUT ke-81
- 4Lansia Hilang Saat Cari Rumput di Hutan Pathuk Tritis Sleman
- 5Donatsur, Donat Lembut Jogja yang Selalu Antre Pembeli
- 6Dampak El Nino, Status Siaga Darurat Kekeringan Sleman Berpotensi Diperpanjang
- 7FTI UAJY Perkuat Kemampuan Komunikasi antara Dosen dengan Mahasiswa
- 8Penampilan Polisi Cilik di Upacara Penurunan Bendera Pemkab Kulon Progo Pukau Masyarakat
- 9Donatsur, Donat Lembut Jogja yang Selalu Antre Pembeli
- 10Melihat Tradisi Sedekah Jageran yang Sudah Berlangsung 16 Tahun Lamanya





