Jogja

6 Kasus Leptospirosis Ditemukan di Kota Jogja

Haris Ma'ani | 4 Maret 2026, 12:05 WIB
6 Kasus Leptospirosis Ditemukan di Kota Jogja
Ilustrasi tikus penyebab leptospirosis. (foto: freepik)

Akurat.co,Jogja-Enam kasus leptospirosis ditemukan di Kota Jogja pada 2026 ini.

Kepala Seksi Pencegahan, Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dr. Endang Sri Rahayu menyampaikan, enam kasus tersebut terjadi sejak Januari hingga akhir Februari 2026.

Endang mengungkapkan, seluruh pasien telah menjalani perawatan dan dilaporkan sembuh.

Baca Juga: Kasus Leptospirosis Meningkat di Kota Jogja, Dinkes Perkuat Deteksi Dini dan Skrining

“Kasus ditemukan di lingkungan yang terdapat tikus," katanya dilansir dari laman resmi Pemkot Jogja, Rabu (4/3/2026).

Namun, penularan tidak semata-mata terjadi di rumah. Aktivitas di luar rumah seperti di pasar, sungai, sawah, atau tempat lain yang berisiko terpapar air tercemar juga menjadi faktor penting.

Perkuat edukasi dan gaya hidup sehat

Dinkes Kota Yogyakarta mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), terutama membiasakan cuci tangan pakai sabun, guna mencegah penularan bakteri leptospirosis.

Endang menyebut, kasus leptospirosis di Kota Yogyakarta memang selalu ada setiap tahun atau bersifat endemis.

“Ya, selalu ada tiap tahun. Istilahnya endemis. Tidak tinggi, tetapi tetap harus diwaspadai,” ujarnya.

Berdasarkan data Dinkes, pada tahun 2023 tercatat 11 kasus, tahun 2024 sebanyak 9 kasus, dan tahun 2025 sebanyak 14 kasus.

Baca Juga: 9 Warga Sleman Meninggal Dunia Karena Leptospirosis

Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan melalui bakteri Leptospira, yang umumnya berasal dari urine tikus terinfeksi.

Bakteri dapat masuk ke tubuh melalui luka di kulit maupun mukosa seperti mata, hidung, mulut, dan telinga.

Penularan bisa terjadi melalui air, makanan, minuman, atau benda yang terkontaminasi bakteri tersebut.

Gejala awal leptospirosis meliputi demam, pusing, nyeri otot terutama nyeri pada betis mata merah atau kekuningan, serta berkurangnya jumlah urine.

Karena gejalanya mirip masuk angin, masyarakat sering kali tidak menyadari infeksi tersebut.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.