Tanggapan Pemilik Daycare di Jogja usai Peristiwa Little Aresha

Akurat.co,Jogja-Insiden yang terjadi di Daycare Little Aresha Kota Jogja tentu saja berimbas ke bisnis tempat penitipan anak atau daycare lainnya.
Peristiwa tersebut membuat pemilik daycare di Kota Jogja harus lebih berhati-hati.
Pemilik Daycare Omah Melati, Sintha Meliyana, memberikan pandangannya terhadap kasus tersebut, dan bagaimana bisnis daycare semestinya.
Baca Juga: Sri Sultan Instruksikan Semua Daycare tak Berizin Ditutup
Menurutnya, kasus yang terjadi sebelumnya mencerminkan adanya kesalahan sistemik, bukan sekadar kelalaian individu.
“Saya melihat itu sebuah sistem yang salah. Kalau melihat kondisi yang terjadi, itu bukan lagi sekadar kelalaian, tapi sudah masuk ke kesalahan prosedural,” ungkapnya dikutip dari laman resmi pemkot jogja, Rabu (29/4/2026).
Ia menekankan bahwa anak usia dini, khususnya di bawah dua tahun, membutuhkan ruang eksplorasi yang aman dan bebas, sehingga tidak dapat diperlakukan secara tidak tepat.
“Anak-anak itu di masa eksplorasi, harus bergerak bebas. Jadi tidak bisa diperlakukan dengan cara yang mengekang,” tambahnya.
Di Daycare Omah Melati sendiri, saat ini terdapat 23 anak dengan rentang usia 3 bulan hingga 5 tahun, yang terbagi dalam beberapa kelompok layanan, yakni baby class, toddler, dan playgroup.
Sintha menyebut pihaknya membatasi jumlah anak terutama di kelas bayi untuk menjaga kualitas pengasuhan.
Sintha juga membagikan sejumlah hal yang perlu diperhatikan orang tua sebelum memilih daycare.
Menurutnya, keterbukaan menjadi kunci utama dalam memastikan keamanan anak.
“Orang tua harus bisa melihat langsung tempatnya, sistemnya, kurikulumnya, termasuk pengasuhnya. Kalau orang tua tidak boleh masuk sama sekali, itu sudah patut dicurigai,” tegasnya.
Ia menambahkan, orang tua juga perlu jeli dalam memantau kondisi anak, baik dari sisi emosional maupun fisik, terutama setelah anak pulang dari daycare.
“Perubahan emosi atau kondisi fisik seperti lecet harus diperhatikan dan dikonfirmasi. Orang tua harus aktif memastikan kondisi anak,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu kepala sekolah Kelompok Bermain (KB) Taman Kanak-Kanak (TK) di Kota Jogja juga memberikan pandangannya atas kasus yang baru saja ramai ini.
Baca Juga: Pemkot Yogya Temukan ada 33 Daycare Belum Berizin
Pandangan terhadap kasus tersebut diungkap usai menerima kunjungan dari Pemkot Jogja.
Kepala Sekolah KB TK Salman Al Farisi, Tri Windarsih, mengungkap untuk memastikan anak-anak dalam kondisi aman, pihak sekolah menerapkan komunikasi intensif dengan orang tua melalui forum komite dan grup WhatsApp di setiap kelas.
Selain itu, terdapat delapan titik CCTV yang dapat diakses secara terbatas untuk menjaga transparansi sekaligus privasi anak.
“Kami juga rutin melakukan evaluasi mingguan dan pembinaan guru agar kualitas pengasuhan tetap terjaga,” katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Warga Sleman Jangan Panik! Sirine EWS Merapi Bakal Berbunyi Serentak 17 Agustus, Ini Alasannya
- 2Tangan Kroniyah Gemetar Saat Terima Kunci Rumah, Ini Sebabnya...
- 3Dari Posko NTT, Dirut PLN Pastikan Pasokan Listrik Aman selama Pelaksanaan HUT ke-81
- 4Lansia Hilang Saat Cari Rumput di Hutan Pathuk Tritis Sleman
- 5Donatsur, Donat Lembut Jogja yang Selalu Antre Pembeli
- 6Dampak El Nino, Status Siaga Darurat Kekeringan Sleman Berpotensi Diperpanjang
- 7FTI UAJY Perkuat Kemampuan Komunikasi antara Dosen dengan Mahasiswa
- 8Penampilan Polisi Cilik di Upacara Penurunan Bendera Pemkab Kulon Progo Pukau Masyarakat
- 9Donatsur, Donat Lembut Jogja yang Selalu Antre Pembeli
- 10Melihat Tradisi Sedekah Jageran yang Sudah Berlangsung 16 Tahun Lamanya









