Jogja

Cerita Masyarakat Gunungkidul, Pelihara Hewan untuk Biayai Kuliah hingga Nikahan

Haris Ma'ani | 16 Mei 2026, 09:04 WIB
Cerita Masyarakat Gunungkidul, Pelihara Hewan untuk Biayai Kuliah hingga Nikahan
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih saat acara adat Gumbregan di Gunungkidul. (foto: pemkab gunungkidul)

Akurat.co,Jogja-Dari dulu peternakan sudah menjadi sandaran hidup masyarakat Gunungkidul.

Hewan ternak atau masyarakat setempat biasa menyebut rajakaya merupakan aset berharga.

Dahulu, sebelum ekonomi berkembang seperti sekarang, hewan ternak sering kali menjadi tumpuan biaya pendidikan anak hingga ke perguruan tinggi serta modal untuk urusan pernikahan.

Baca Juga: Gunungkidul Kelebihan Stok Ribuan Hewan Kurban, Bupati Endah: Siap Menyuplai Daerah Lain

Wilayah Banaran, Gunungkidul, menjadi salah satu daerah yang terus melestarikan peternakan.

Lurah Banaran, Sumito, menjelaskan bahwa bagi masyarakat setempat, ternak atau rajakaya memiliki peran vital dalam sejarah ekonomi keluarga.

Oleh karenanya, masyarakat juga senantiasa mengungkapkan rasa syukur dengan menggelar upacara adat Gumbregan.

Ini adalah tradisi turun-temurun sebagai bentuk syukur kolektif para peternak atas kesehatan dan keberkahan hewan ternak atau rajakaya yang mereka miliki.

Pada Kamis (14/5/2026) tradisi ini dijalankan dan bahkan dihadiri langsung Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih.

Endah Subekti Kuntariningsih hadir secara langsung dan melakukan pemotongan tumpeng yang kemudian diberikan kepada ternak lembu atau sapi milik warga.

“Bagi para peternak, lembu ini adalah rajakaya yang mengantar anak-anak sekolah hingga kuliah,” ujar Endah.

Baca Juga: Kasus Bunuh Diri dan Kemiskinan jadi Perhatian, Pemkab Gunungkidul dan Kemenko PMK Sinergi Atasi Krisis

Bupati berharap, Gumbregan membawa keberkahan bagi para peternak sehingga ekonomi kerakyatan di wilayah Banaran semakin kuat dan hasil ternak terus meningkat pada tahun-tahun mendatang.

Tradisi ini ditandai dengan penyajian makanan khas seperti kupat jagung serta ketan yang diberikan kepada sapi.

Selain itu, warga secara sukarela membawa sedekah masing-masing untuk dimakan bersama sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.