Di Gunungkidul Masih Ada Warga Miliki Rumah Berlantai Tanah, Dinding Bambu, Tidur dengan Alas Seadanya

Akurat.co,Jogja-Sukiran adalah warga Kelurahan Selang, Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta.
Sukiran adalah potret di mana masih ada masyarakat Indonesia, khususnya di Gunungkidul yang tinggal di rumah tak layak.
Rumahnya beralaskan tanah. Pria yang sehari-hari mencari rongsokan guna menyambung hidup ini juga tidur dengan alas seadanya.
Baca Juga: Terendah di DIY, Segini UMK Gunungkidul 2026
Kondisinya memprihatinkan pada masa tuanya usai berpisah dengan istri dan putrinya selama 15 tahun. Nyaris tak ada yang peduli.
Sampai akhirnya kabar tentang Sukiran sampai ke telinga Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih.
Bupati Endah langsung menyambangi rumah Sakiran. Bersama dengan Baznas, Endah ingin memperbaiki keadaan rumah Sakiran yang termasuk Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Endah berharap, selain memberikan rumah yang layak dengan fasilitas sanitasi, dapur, dan kamar yang memadai, pembangunan ini juga bisa menjadi jalan untuk mempersatukan kembali Sukiran dengan keluarganya.
Baca Juga: Dari Iuran, Ikatan Keluarga Gunungkidul Sewa 31 Bus untuk Mudik Bareng
"Dimasa tuanya, dukungan keluarga sangat dibutuhkan agar tidak hidup terlunta-lunta sendirian," kata Endah, dikutip dari laman resmi pemkab.
Fokus ke perbaikan RTLH lainnya
Selain rumah Sakiran, pemerintah Gunungkidul dan Baznas juga memperbaiki RTLH lainnya.
Seperti rumah Parno di Dusun Singkar, Kelurahan Wareng.
Parno dan istrinya yang sudah lanjut usia tinggal di rumah dengan kondisi dinding bambu (gedek) yang sudah berlubang serta atap dari bambu yang mulai rapuh.
Keseharian mereka bekerja sebagai petani dengan menumpang lahan milik kehutanan.
Baznas memperbaiki rumah tersebut dengan mengganti dinding menjadi tembok yang lebih kokoh dan menambah jendela untuk sirkulasi udara.
Baca Juga: Kisah Fendi, Anak di Bawah Umur di Gunungkidul Putus Sekolah Demi Asuh Ibunya yang Stroke
Sementara itu, bangunan bagian belakang yang digunakan untuk menyimpan hasil panen dan ternak akan tetap dipertahankan sesuai kebutuhan mereka.
Selain rumah Parno, bupati dan tim Baznas juga memberikan perhatian terhadap kediaman Monika Dewi Sartika di Kelurahan Pulutan.
Ibu Monika merupakan seorang janda yang menghidupi empat orang putranya dengan bekerja sebagai asisten rumah tangga.
Kondisi rumah saat ini dinilai kurang mendukung kesehatan karena sirkulasi udara yang buruk.
"Pemerintah bersama Baznas akan segera merancang desain rumah yang memiliki kamar-kamar representatif agar anak-anak ibu Monika dapat belajar dengan lebih baik demi masa depan mereka," kata Endah.
Baca Juga: Libur Lebaran 2026, Ini Jalur Alternatif ke Gunungkidul
Bupati menyampaikan apresiasi kepada para ASN dan perangkat daerah yang telah aktif membayar zakat melalui Baznas.
Ia juga mengajak pihak lain yang mampu untuk turut tergerak hatinya menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga resmi tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









