Jogja

Mahasiswa UGM Kembangkan Alat Pengobatan Luka yang Murah

Haris Ma'ani | 13 April 2026, 12:01 WIB
Mahasiswa UGM Kembangkan Alat Pengobatan Luka yang Murah
Foto ilustrasi luka. (unsplash/diana_pole)

Akurat.co,Jogja- Meirizal, mahasiswa program doktor Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM mengembangkan alat pengobatan luka dengan harga yang murah.

Ia mengembangkan inovasi terapi tekanan negatif atau Reverse Aqua Pump-Vacuum Assisted Closure (RAP-VAC).

Inovasi ini dinilai lebih murah dan efikasi yang setara dengan Vacuum Assisted Closure (VAC) komersial.

Baca Juga: Dosen UGM Sebut WFH ASN Berpotensi Kurangi Produktivitas Kerja

Perawatan luka masih menjadi tantangan besar dalam dunia kedokteran modern karena karakteristik luka yang bervariasi dan hasil penyembuhan yang tidak selalu dapat diprediksi.

Beban perawatan luka, terutama luka kronis, terus meningkat seiring dengan bertambahnya angka harapan hidup.

Studi menunjukkan sekitar 3% penduduk usia di atas 65 tahun memiliki luka terbuka yang memerlukan perawatan.

Luka kronis lebih sering ditemukan pada perempuan dan usia lanjut, dengan prevalensi 1,67 kasus per 1.000 penduduk.

Jika dikaitkan dengan populasi Indonesia, diperkirakan terdapat sekitar 278 ribu kasus luka kronis yang menjadi beban sistem kesehatan nasional.

Vacuum Assisted Closure (VAC) yang telah lama diperkenalkan terbukti efektif mempercepat penyembuhan, namun biayanya tinggi sehingga terbatas di negara berkembang seperti Indonesia.

Meski banyak inovasi dilakukan, belum ada inovasi yang mendasar pada komponen utama VAC.

Ia melakukan penelitiannya di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta pada instalasi rawat jalan, instalasi rawat inap dan kamar operasi, Orthopaedi dan Traumatologi.

Penelitian selama 5 bulan, dari April 2025 hinggga Agustus 2025.

Subjek penelitian adalah pasien dengan defek luka yang membutuhkan rekonstruksi lanjutan pada Sub Divisi Bedah Tangan dan Rekonstruksi Mikro dan dikumpulkan secara konsekutif dari instalasi rawat jalan, instalasi rawat inap, dan instalasi rawat darurat hingga jumlah sampel yang dibutuhkan terpenuhi.

Penelitian yang melibatkan 26 subjek yang memenuhi kriteria inklusi, namun dua di antaranya tereksklusi karena membutuhkan tindakan bedah lanjutan berupa flap rekonstruksi, sehingga total sampel yang dianalisis berjumlah 24 subjek.

"Subjek dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok Reverse Aqua Pump-VAC (RAP- VAC) dan kelompok VAC komersial, masing-masing terdiri dari 12 pasien,” paparnya.

Dari hasil penelitian diketahui tidak terdapat perbedaan bermakna derajat granulasi luka antara pasien yang dirawat dengan RAP-VAC dan VAC komersial.

Baca Juga: Pernah Kerja Bangunan, Alfath Qornain Wujudkan Mimpi jadi Mahasiswa UGM

Berdasarkan hasil tersebut, RAP-VAC dinilai berpotensi menjadi alternatif yang efektif dan efisien dalam perawatan luka kompleks, khususnya dalam persiapan cangkok kulit pada bedah rekonstruksi.

"Harapannya, inovasi ini dapat menjadi solusi aplikatif bagi pelayanan kesehatan di Indonesia, sehingga terapi luka yang optimal dapat diakses lebih luas oleh masyarakat,” katanya dalam ujian terbuka promosi doktor, Kamis (9/4).

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.