Jogja

Menengok Usaha Caping di Gunungkidul, Bertahan selama 37 Tahun, Disebut Produk 'Skincare' Alami

Haris Ma'ani | 30 Mei 2026, 11:03 WIB
Menengok Usaha Caping di Gunungkidul, Bertahan selama 37 Tahun, Disebut  Produk 'Skincare' Alami
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntaringsih menaruh perhatian khusus terhadap produk caping warganya. (foto: dok.pemkab gunungkidul)

Akurat.co,Jogja-Kabupaten Gunungkidul dikenal sebagai wilayah yang banyak mempertahankan tradisi.

Salah satunya adalah tradisi pembuatan caping, penutup kepala dari bahan anyaman bambu.

Wilayah Dusun Kaliwaru, Kelurahan Kampung, Kapanewon Ngawen, Gunungkidul adalah wilayah yang sampai saat ini masih terus melestarikan pembuatan caping.

Baca Juga: Miliki Empat Tandan, Pisang Ambon Milik Warga Gunungkidul Bakal Dikembangkan jadi Ikon Baru Daerah

Bagi warga Kaliwaru, keterampilan menganyam bambu bukanlah sesuatu yang dipelajari secara formal, melainkan warisan leluhur yang seperti “darah turunan”.

Sutikno, salah satu perajin setempat, menceritakan bahwa ia sudah mulai menganyam sejak tahun 1989.

Kalau dihitung sudah 37 tahun Sutikno setia dengan profesinya.

Caping menjadi produk andalan yang dibuat Sutikno dan warga lain.

Menyiasati zaman, perajin di sana mengembangkan produk lain.

“Selain caping, mereka kini merambah ke produk desain baru seperti tas bambu, kap lampu, hingga ornamen interior rumah," tutur Sutikno.

Semua dilakukan demi keberlanjutan usaha yang sudah turun temurun.

Tapi, tetap ada rasa kekhawatiran dalam diri Sutikno dan perajin tua lainnya terkait regenerasi.


Baca Juga: Cerita Masyarakat Gunungkidul, Pelihara Hewan untuk Biayai Kuliah hingga Nikahan

Sebab, saat ini, hanya sekitar 60 persen warga Kaliwaru yang masih aktif menekuni kerajinan ini karena generasi muda mulai beralih ke pekerjaan lain.

Berbeda dengan topi modern yang hanya melindungi area wajah, caping memiliki permukaan luas yang mampu melindungi seluruh sisi kepala, mulai dari tengkuk hingga pipi.

Ini yang juga membuat Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih turut mempromosikan produk warganya.

Bahkan Endah menyebut caping sebagai produk perawatan kulit atau skincare alami.

Disebutkan Endah caping adalah solusi agar wajah para petani tidak terbakar matahari.

Baca Juga: UNY Terima 2.497 Mahasiswa dari Jalur SNBT, Prodi Vokasi Banjir Peminat 

“Komitmen untuk kembali ke produk lokal ini bahkan diwujudkan dengan aksi nyata, Saya akan mengganti topi lapangan dengan caping asli buatan warga dalam setiap kegiatan di lapangan," kata Endah.

Saat ini ada tiga jenis caping yang diciptakan warga setempat.

Pertama, Caping Nyunggi, yang memiliki ujung yang tidak lancip (datar) agar memudahkan petani, terutama perempuan, saat membawa beban di atas kepala.

Kedua, Caping Kakung, didesain khusus untuk laki-laki.

Yang ketiga, Caping Putri, memiliki bentuk yang cenderung lebih lebar dan sedikit “nyenting” (melengkung cantik) untuk memberikan perlindungan ekstra sekaligus estetika bagi pemakainya.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.