Jogja

Cerita Wali Kota Jogja Ambil Raport Anaknya yang SMA, Ungkap Dinasihati Guru

Haris Ma'ani | 26 Juni 2026, 11:02 WIB
Cerita Wali Kota Jogja Ambil Raport Anaknya yang SMA, Ungkap Dinasihati Guru
Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo saat mendampingi Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga RI, Wihaji. (foto: pemkot jogja)

Akurat.co,Jogja- Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo memberikan contoh langsung peran ayah mengambilkan raport pendidikan anaknya.

Hasto mengatakan, meluangkan waktu di tengah kesibukan sebagai wali kota untuk mengambil raport anaknya yang SMA.

“Saya sendiri kemarin juga terus mengambil raport anak saya di SMA," katanya di sela-sela Gerakan Ayah Mengambil Raport (Gemar) ke sekolah di Madrasah Aliyah Negeri 1 (MAN 1) Yogyakarta, Kamis (26/6/2026).

Baca Juga: Temuan BKKBN, 25% Anak Indonesia Mengalami Fatherless

Menurutnya mengambil raport anak memiliki kesan tersendiri.

"Kita dinasehati oleh guru, diberikan feedback apa yang dilakukan anak saya. Itu lebih mengesankan daripada saya hanya terima raport yang saya baca sendiri," katanya.

Hasto pun berharap para ayah yang biasanya sibuk, bisa menyempatkan diri.

"Saya juga berani ngomong gini karena saya sudah mengambil raport duluan dengan anak saya,” ucap Hasto.

Gemar merupakan program yang sedang digalakkan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN).

Gerakan itu mengingatkan masyarakat agar sosok ayah juga hadir mendampingi anak secara psikologis.

Pemerintah Kota Yogyakarta mengapresiasi Gemar dan mengimbau orang tua untuk mengambil raport anak.

Kegiatan ini dihadiri langsung Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga RI, Wihaji.

Kegiatan itu juga rangkaian Hari Keluarga Nasional tahun 2026.

Baca Juga: Balai Karantina DIY Musnahkan Ratusan Kilogram Komoditas Ilegal

Dalam kesempatan ini, Wihaji mengatakan ingin mengetahui sebarapa perhatian orang tua terhadap anak, terutama ayah ke anaknya.

"Karena di Indonesia ada 25 persen istilahnya ada namanya fatherless, kehilangan sosok ayah,” katanya.

Pihaknya menegaskan persoalan fatherles itu menjadi tanggung jawab Kemendukbangga karena unit terkecil di negara adalah keluarga.

Untuk itu perbaikan dimulai dari keluarga. Ke depan anak adalah generasi penerus. Pihaknya berpesan kepada orang tua agar mengajak anak berkomunikasi dan berinteraksi.

“Anaknya diajak ngobrol. Anak kalau enggak diajak ngobrol nanti ngobrolnya sama handphone yang kita sebut dengan keluarga baru," ungkapnya.

Meski demikian pihaknya berpendapat Gemar tidak bisa sepenuhnya diartikan harus ada kehadiran ayah secara fisik.

Terutama bagi anak yang sudah tidak memiliki ayah atau anak yatim maupun ayahnya bekerja merantau.

Jika tidak ada ayah, bisa digantikan sosok pengganti.

Wihaji menegaskan anak membutuhkan bimbingan orang tua dan semua pihak.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.