Rute Sepedaan JLFR Bakal Ditata Ulang, Sekda: Jangan Ada Penumpang Kereta Ketinggalan karena Macet

Akurat.co,Jogja-Pemerintah DIY bakal menata ulang rute Jogja Last Friday Ride (JLFR) yang selalu melibatkan ribuan pesepeda.
Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti mengatakan, aktivitas bersepeda merupakan aktivitas positif yang tentu akan didukung oleh pemerintah.
Namun, aktivitas positif tersebut harus ditinjau ulang jika memberikan dampak negatif bagi orang lain.
Baca Juga: Di Yogyakarta Bakal Digelar Sebatik 2025, Bersepeda Menyusuri Jogja dengan Outfit Batik
"Bersepeda itu bukannya tidak boleh, tapi kalau sudah mengganggu pengguna jalan lain, itu yang harus diatur. Kita ini sama-sama pengguna jalan, bukan penguasa jalan," ungkapnya dikutip dari laman resmi Pemda DIY, Rabu (22/7/2026).
Made berpendapat, kegiatan JLFR merupakan kegiatan positif, namun memang perlu ditata ulang, mulai dari jumlah pesertanya, hingga jalur-jalur yang dilalui.
Jalur-jalur yang dilalui para pesepeda ini juga perlu melihat sektor-sektor pelayanan publik yang ada di jalur tersebut.
"Stasiun Tugu misalnya, jangan sampai ada penumpang kereta yang ketinggalan kereta karena terjebak macet.
Kalau semua badan jalan dipakai, pengguna jalan lain lewat mana. Jadi jangan sampai kegiatan positif malah justru dipandang sebagai kegiatan negatif oleh orang lain," paparnya.
Sementara itu, Kepala Dishub Kota Yogyakarta, Agus Arif Nugroho mengatakan, berusaha membuat nyaman Kota Yogyakarta.
Karena menurutnya, aktivitas yang ada di Kota Yogyakarta sangat beragam, baik yang dilakukan oleh warga DIY sendiri maupun masyarakat dari luar DIY.
Di sisi lain, kondisi dan luas jalanan di Kota Yogyakarta tidak mengalami perubahan.
"Kami berupaya memastikan semuanya nyaman, meskipun tingkat kenyamanannya pasti tidak bisa mencapai ekspektasi maksimal," ujarnya.
Agus menjelaskan, pengaturan jalur JLFR bertujuan menjamin keamanan dan kenyamanan para pesepeda.
Menurut Agus, di Kota Yogyakarta tentu ada jalur-jalur yang sudah terlalu padat setiap harinya.
Untuk itu perlu dicari jalur alternatif lain agar para pesepeda juga bisa tetap berjalan tanpa kendala.
Atau bagaimana diatur agar jalur yang dilewati tidak harus melewati perlintasan kereta api.
Baca Juga: Tour de Ambarrukmo Bakal Diikuti 1.200 Pesepeda, Jelajahi Keindahan Yogyakarta dengan Bersepeda
"Ini kami lakukan karena sayang. Dan ini bentuk ekspresi sayang kami, karena tidak pernah ada larangan bersepeda di Kota Yogyakarta.
Kalau ada yang tidak setuju dengan ekspresi sayang kami, tidak apa-apa, makanya ayo diobrolin. Jangan sampai ekspresi rasa sayang kami ini justru dilihat menjadi ekspresi tidak sayang," katanya.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Warga Sleman Jangan Panik! Sirine EWS Merapi Bakal Berbunyi Serentak 17 Agustus, Ini Alasannya
- 2Ega Rizky: Belum Kepikiran Pensiun, Masih Mau Berkarier Sakmampune
- 3Lansia Hilang Saat Cari Rumput di Hutan Pathuk Tritis Sleman
- 4LKBN Antara Gelar Pameran Fotografi 'Merdeka' di Titik Nol Kilometer Yogya
- 5Dari Posko NTT, Dirut PLN Pastikan Pasokan Listrik Aman selama Pelaksanaan HUT ke-81
- 6Tangan Kroniyah Gemetar Saat Terima Kunci Rumah, Ini Sebabnya...
- 7Belanja Rp20.000 di Pasar Kota Jogja Bakal Dapat Smartphone
- 8Dampak El Nino, Status Siaga Darurat Kekeringan Sleman Berpotensi Diperpanjang
- 9Donatsur, Donat Lembut Jogja yang Selalu Antre Pembeli
- 10Melihat Tradisi Sedekah Jageran yang Sudah Berlangsung 16 Tahun Lamanya









