Berkat Keong Mas, Mahasiswa UMY Raih Penghargaan Tokoh Penggerak Lingkungan Tingkat Nasional

Akurat.co,Jogja-Keong mas bagi petani adalah hama. Tapi di tangan mahasiswa UMY, hama keong mas menjadi pupuk organik.
Bahkan, mengantarkannya menjadi tokoh penggerak lingkungan tingkat nasional.
Adalah Aura Prisca Medina, sosok tersebut.
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi UMY ini baru saja mengukir prestasi membanggakan di tingkat nasional.
Di usianya yang baru 19 tahun, Prisca dinobatkan sebagai Juara 1 Tokoh Penggerak Lingkungan Kampung dalam Festival Astra 4 Pilar Indonesia yang digelar di Menara Astra, Jakarta, 8–10 Agustus 2025.
Salah satu inovasinya adalah memanfaatkan hama keong mas menjadi pupuk organik.
Bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Srumbung yang dipimpin Ibu Tuti, mereka mengolah keong mas dengan fermentasi menggunakan buah busuk dan nitrobakter.
Baca Juga: Dosen UMY Kembangkan Mesin Perajang Singkong Basis Stepper, Cocok bagi Pelaku Usaha Kecil
Hasilnya digunakan kembali untuk menyuburkan sawah.
Dari uji coba di lahan 500 m², produktivitas padi meningkat dari 2.800 kg menjadi 3.100 kg.
“Respons masyarakat sangat positif. Mereka berterima kasih karena masalah hama bisa diubah menjadi solusi yang menguntungkan,” ujar Prisca dilansir dari laman resmi UMY.
Selain itu, Prisca juga memberdayakan UMKM lokal dengan mengolah komoditas unggulan seperti durian, nanas, hingga salak.
Ia bahkan bersama tim pernah mengeksplorasi 15 ton salak dari desa binaan sebagai bagian dari program peningkatan ekonomi masyarakat.
Keberhasilan itu dilakukannya sejak awal 2025. Prisca aktif sebagai fasilitator di Desa Sejahtera Astra (DSA) Kelir Berdikari Agrikultura, Srumbung, Magelang.
Baca Juga: Pakar UMY Dukung Langkah Presiden Prabowo Perkuat Pertanian Dalam Negeri, Impor Opsi Terakhir
Perannya tidak hanya mendampingi masyarakat, tetapi juga terjun langsung ke lapangan, berdiskusi dengan petani dan kelompok wanita tani, hingga merancang solusi nyata.
Penuh tantangan
Menjadi fasilitator muda tentu penuh tantangan. Dengan usia belia, ia harus mampu membangun kepercayaan petani dan ibu-ibu yang jauh lebih tua.
“Awalnya sulit beradaptasi. Saya 19 tahun, sementara mereka 40–45 tahun. Tapi Alhamdulillah mereka sangat terbuka sehingga kolaborasi bisa berjalan baik,” tuturnya.
Selain itu, perjalanan menuju panggung juara pun tidak mudah. Prisca sempat ragu mengirimkan proposal karena waktu persiapan yang singkat.
“Jujur saya hampir menolak. Tapi teman saya bilang kesempatan tidak datang dua kali. Akhirnya saya nekat kirim proposal, dan tidak menyangka bisa sampai sejauh ini,” kenangnya.
Baca Juga: Guru Besar UMY Minta Pemerintah Evaluasi Perjanjian dengan AS, Akses Data ke WNI Ancam Keamanan
Dengan dukungan rekannya, Arief Reksa Pambudi, serta manajer DSA Kelir, Prisca menyiapkan presentasi, video profil, hingga pitching di hadapan dewan juri.
Hingga akhirnya namanya diumumkan sebagai pemenang utama.
Bagi Prisca, penghargaan ini bukan semata prestasi pribadi, melainkan hasil kerja sama masyarakat.
“Ini kemenangan untuk masyarakat yang bekerja sama dengan saya, mulai dari kelompok tani, ibu-ibu, hingga teman-teman. Tanpa mereka saya tidak bisa sampai ke titik ini,” ucapnya haru.
Menurutnya, kekuatan program terletak pada keunikan, inovasi, dan dampak nyata.
“Pertama, saya masih muda dan perempuan, tapi bisa memberdayakan masyarakat marginal. Kedua, inovasinya fresh dan langsung dirasakan manfaatnya,” tambahnya.
Prestasi ini tidak membuat Prisca berhenti. Dalam waktu dekat, ia akan menjalankan proyek pemberdayaan baru di Malang.
Ia juga bercita-cita bisa berkarier di Astra agar terus konsisten mendampingi desa-desa binaan di seluruh Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









