Jogja

Di UIN Sunan Kalijaga, Ganjar Pranowo Kembali Singgung Soal Nepotisme, Ada Apa?

M. Mubin Wibawa | 6 Oktober 2025, 13:05 WIB
Di UIN Sunan Kalijaga, Ganjar Pranowo Kembali Singgung Soal Nepotisme, Ada Apa?

Akurat.co,Jogja-Mantan gubernur Jawa Tengah (Jateng) dua periode, Ganjar Pranowo kembali menyinggung soal nepotisme saat menjadi pembicara di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, baru-baru ini.

Ganjar menyoroti isu korupsi, kolusi, dan nepotisme merupakan akar persoalan bangsa sekaligus penghambat utama pembangunan.

Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber kegiatan Stadium Generale bertajuk “Gagasan-gagasan Transformasi Sosial untuk Indonesia”, Jumat (3/10/2025) kemarin.

Ganjar, yang menyampaikan orasi intelektual berjudul “The Changemaker: Transformasi Sosial di Indonesia”, menegaskan, bahwa pembangunan budaya antikorupsi harus ditanamkan sejak dini, salah satunya melalui jalur pendidikan.

Baca Juga: 5 Potret Aksi Ganjar Pranowo Bersih-bersih Stadion Maguwoharjo, Netizen: Pak Ganjar Maturnuwun

Menurutnya, selama ini wacana antikorupsi relatif lebih mendapat sorotan, sementara praktik kolusi dan nepotisme kerap luput dari perhatian publik, padahal keduanya sama berbahayanya dan memiliki daya rusak yang tidak kalah besar.

Ketiganya, jika dibiarkan, tidak hanya merusak sistem politik dan pemerintahan, tetapi juga melemahkan sendi-sendi moral dan keadilan sosial.

Karena itu, mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa dituntut untuk menumbuhkan kesadaran kritis sekaligus menjadi teladan dalam menolak dan melawan praktik tersebut.

Kalangan muda penggerak perubahan sosial

Ganjar menegaskan bahwa setiap individu, terutama kalangan muda, memiliki potensi untuk menjadi penggerak perubahan sosial.

Kreativitas dan keberanian adalah modal awal yang memungkinkan mahasiswa untuk mengambil peran transformatif.

“Siapa yang bisa mengubah situasi? Setiap individu, termasuk kawan-kawan, kalau orangnya kreatif dan punya nyali, maka ia punya peluang untuk mengubah itu,”

Lebih jauh, Ganjar menekankan bahwa transformasi sosial menuntut integritas, kolaborasi, serta keberanian untuk bertindak.

Baca Juga: Ganjar Pranowo Ajak Masyarakat Bersihin Sampah di Stadion Maguwoharjo Minggu Besok

Tanpa integritas, gagasan hanya akan kehilangan substansi dan berubah menjadi komoditas.

Politik, dalam pandangannya, tidak boleh direduksi menjadi arena perebutan kekuasaan, tetapi harus dipahami sebagai instrumen untuk menjawab kebutuhan mendasar masyarakat, seperti akses pendidikan dan pelayanan publik.

Tantangan AI dan tak cukup prestasi akademik 

Dalam konteks inilah, kata dia, pemuda dipandang sebagai motor civil society yang memiliki kapasitas untuk memengaruhi proses pengambilan keputusan.

Selain itu, Ganjar mengingatkan mahasiswa untuk berhati-hati memanfaatkan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (AI).

Bagi Ganjar, AI dapat mendukung proses belajar, namun penggunaannya harus kritis, dengan selalu berpijak pada hasil riset, data empiris, serta regulasi yang sahih.

“Tidak ada proses belajar yang instan, termasuk dalam politik. Semua menuntut konsistensi, integritas, dan proses yang panjang,” tegasnya.

Baca Juga: Saat Ganjar Pranowo dan Wali Kota Jogja Kompak Bersihkan Sampah di Kali Code

Di samping itu, ia mengingatkan bahwa prestasi akademik semata tidak cukup untuk melakukan transformasi sosial.

Softskill seperti kepemimpinan, komunikasi, dan problem solving justru menjadi bekal penting yang sering kali kurang diasah.

"Untuk mengasah itu semua, mahasiswa harus aktif dalam organisasi, kelompok diskusi, maupun berbagai forum intelektual lannya,” tegasnya.

 


Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.